Alasan Bahlil Lahadalia tidak memangkas RKAB perusahaan tambang besar dalam aturan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya Kementerian ESDM 2026 didasari oleh besaran kontribusi royalti kepada negara.
Banyak juga bilang sama saya "lho Pak, kan ada beberapa perusahaan besar itu kok enggak dipotong?". Gimana, bayar royaltinya 19%. Aku harus memprioritaskan yang royalti bayar gede dong, ujar Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral tersebut di Jakarta.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKebijakan pengaturan produksi mineral dan batu bara ini tidak sekadar melihat jumlah produksi saja, melainkan kalkulasi matang terkait manfaat ekonomi langsung bagi kas negara.
Mana lebih bagus, kamu ada punya perusahaan 10 nih, ada tiga perusahaan yang bayar royaltinya 19%, ada tujuh perusahaan yang bayar royaltinya taruhlah contoh 11%. Kamu prioritaskan yang mana? ... Itu aja logiknya, tambah Bahlil.
Dampak Relaksasi RKAB dan Stabilitas Harga Komoditas Tambang
Relaksasi RKAB 2026 tetap dilakukan secara terukur demi menjaga harga keekonomian komoditas di pasar global sekaligus mengamankan cadangan cadangan tambang nasional dalam jangka panjang.
Ada generasi kita berikutnya. Kalau hari ini kita melakukan dengan penuh tidak kehati-hatian, itu dampaknya adalah satu, harga bisa terkoreksi di bawah. Yang kedua, harusnya tambang kita bisa jual dengan harga yang baik dengan waktu yang panjang, terangnya.
Pemerintah sendiri sebelumnya telah melakukan penyesuaian target produksi pada tahun 2026, di mana batu bara dipangkas dari 790 juta ton menjadi 600 juta ton serta nikel disesuaikan ke kisaran 260 hingga 270 juta ton.
Posisi strategis Indonesia sebagai pemain utama pasar mineral global membuat setiap kebijakan volume produksi berdampak langsung terhadap keseimbangan suplai dan permintaan dunia.