Kalimat that s AI mendadak populer di kalangan anak-anak untuk menyebut berbagai hal yang dinilai palsu atau tidak sesuai kenyataan. Ungkapan tersebut kini tidak lagi sekadar merujuk pada teknologi kecerdasan buatan, melainkan menjadi bahasa gaul baru.
Sejumlah orang tua mendapati anak-anak mereka menggunakan frasa tersebut untuk melabeli barang tiruan atau meragukan suatu informasi. Fenomena bahasa ini menunjukkan bagaimana sebuah istilah teknologi mengalami perluasan makna di tengah masyarakat.
Pakar psikologi dan komputasi sosial Vanderbilt University Ryan L. Boyd menjelaskan bahwa proses tersebut dinamakan peluasan semantik. Istilah spesifik kerap berubah menjadi ungkapan umum seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeGenerasi sebelumnya juga pernah menggunakan istilah seperti plastik atau Photoshopped untuk menggambarkan kepalsuan. Kini, anak-anak memanfaatkan singkatan tersebut sebagai alat deteksi kebohongan alami terhadap produk tiruan.
Makna di Balik Ungkapan Anak Muda Saat Ini
Anak-anak tidak menggunakan ungkapan tersebut sebagai istilah netral melainkan sebagai bentuk ejekan terhadap kualitas rendah. Mereka sering kali mengaitkan hasil buatan mesin dengan sesuatu yang kurang berharga.
Selain menilai produk tiruan, para pelajar juga kerap memanfaatkan platform digital untuk menguji keaslian gambar secara interaktif. Aktivitas ini melatih kepekaan mereka dalam mengenali konten digital yang tidak valid.
Di sisi lain, para orang tua mulai mengadopsi frasa tersebut sebagai trik praktis untuk menolak permintaan mainan secara halus. Tren penggunaan kalimat itu pun kian marak menghiasi berbagai konten video pendek.
Keterlibatan orang tua dalam menggunakan tren bahasa gaul tersebut berpotensi membuat anak-anak segera meninggalkan istilah itu. Siklus pergantian bahasa populer di internet biasanya bergerak sangat cepat seiring keterlibatan orang dewasa.