Bawaslu Bali mendorong agar perbedaan politik tetap dalam koridor persatuan guna menjaga kedewasaan demokrasi di masyarakat. Pilihan politik boleh berseberangan, namun hal tersebut tidak boleh menjadi pemicu retaknya hubungan persaudaraan antarwarga.
Ketua Bawaslu Bali, I Putu Agus Tirta Suguna, menyampaikan pesan tersebut saat peringatan Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali pada Jumat (14/8). Menurutnya, nilai ketulusan dan keikhlasan dalam tema hari jadi tersebut sangat relevan dengan semangat menjaga demokrasi di Indonesia.
"Pengawasan adalah bagian dari upaya bersama untuk menjaga demokrasi tetap berjalan sesuai aturan, sekaligus memastikan perbedaan dalam politik tidak menjadi alasan untuk memecah persatuan," ujar Suguna dalam keterangannya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePentingnya Literasi Demokrasi bagi Masyarakat
Suguna menegaskan bahwa demokrasi tidak sekadar dijaga melalui regulasi pemilu, melainkan juga membutuhkan kedewasaan sikap. Masyarakat perlu memahami bahwa politik sejatinya menjadi ruang untuk memperjuangkan gagasan, bukan arena mempertentangkan identitas.
Ia menambahkan, tugas lembaga pengawas pemilu melampaui tahapan teknis pemilu, yakni membangun kesadaran kolektif. Politik seharusnya ditempatkan sebagai alat mempertemukan berbagai gagasan strategis bagi bangsa, bukan sarana untuk memperlebar jarak sosial.
Demokrasi dianggap kehilangan makna apabila perbedaan preferensi politik membuat seseorang menganggap pihak lain sebagai musuh. Kualitas demokrasi diuji melalui cara masyarakat menyikapi keberagaman pandangan tanpa mengorbankan ikatan sosial yang telah terjalin.
Literasi demokrasi menjadi kunci penting bagi masyarakat dalam menghadapi dinamika kontestasi politik di masa depan. Pemahaman mendalam mengenai konsekuensi perbedaan pilihan politik diperlukan agar warga tidak mudah terprovokasi isu negatif.
Suguna menekankan bahwa persatuan dalam keberagaman merupakan prinsip yang harus dipegang teguh oleh masyarakat Bali. Perbedaan latar belakang, kepentingan, serta pandangan politik justru menjadi ujian nyata bagi kualitas kedewasaan demokrasi lokal.
"Karena itu, politik harus ditempatkan sebagai alat untuk mempertemukan gagasan, bukan memperlebar jarak," tegas pria yang akrab disapa Agus Tirta ini menutup pernyataannya.
Kontestasi politik sering kali menjadi persoalan jika persaingan berubah menjadi upaya menjatuhkan lawan. Bawaslu Bali berkomitmen terus mendorong iklim politik sehat yang menjunjung tinggi etika dan persatuan di atas kepentingan pribadi maupun golongan.