Dua pelaut asal Filipina tewas setelah kapal tanker minyak berbendera Saudi Arabia, Sidr, mengalami insiden penyerangan saat melintasi Selat Hormuz pada 31 Agustus 2026.
Perusahaan pelayaran nasional Saudi Arabia, Bahri, mengonfirmasi kematian dua awak kapal tersebut dalam pernyataan resmi terkait insiden yang melibatkan kapal tanker raksasa pengangkut minyak mentah tersebut.
Perusahaan pelayaran itu sebelumnya menyatakan sedang melakukan investigasi mendalam serta menilai dampak kerusakan yang terjadi akibat insiden di jalur maritim internasional tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeFirma intelijen pelayaran melaporkan kapal tanker Sidr disambar proyektil misterius sekitar 16,6 mil laut timur laut Khasab, Oman, pada Senin malam ketika sedang berlayar keluar dari Selat Hormuz.
Ancaman Keamanan di Jalur Energi Selat Hormuz
Organisasi Maritim Internasional mencatat sebanyak 70 insiden maritim terkonfirmasi serta 19 kematian pelaut di kawasan tersebut hingga 26 Agustus 2026 sebelum serangan terbaru ini terjadi.
Selat Hormuz merupakan salah satu koridor energi paling penting di dunia yang menyuplai sekitar seperlima kebutuhan pasokan minyak global sebelum konflik mengganggu jalur pelayaran.
Insiden penyerangan terhadap kapal tanker Sidr menambah daftar panjang risiko tinggi bagi pelayaran komersial yang beroperasi di sekitar kawasan perairan Selat Hormuz.
Otoritas pelayaran terus memantau situasi keamanan kawasan mengingat eskalasi konflik regional memberikan dampak langsung terhadap keselamatan para awak kapal yang bertugas.
Hingga kini, pihak perusahaan pelayaran bersama investigasi internasional masih mengumpulkan bukti terkait proyektil misterius yang menghantam kapal tanker milik Bahri tersebut.
Pemerintah berbagai negara terus mengimbau peningkatan kewaspadaan bagi seluruh armada kapal komersial yang melintasi jalur pelayaran strategis di Timur Tengah.