Gen Z sengaja meninggalkan sunscreen dan mengabaikan perlindungan sinar matahari demi mengejar tren kulit kecokelatan yang viral di media sosial. Survei American Academy of Dermatology (AAD) tahun 2024 menunjukkan bahwa hampir 30 persen responden dari kalangan Gen Z menyatakan mendapatkan kulit kecokelatan merupakan prioritas yang lebih tinggi daripada mencegah kanker kulit.
"Berbeda dari generasi yang mengalami budaya tanning pada tahun 1970-an dan 1980-an, Gen Z tumbuh dalam era ketika kaitan antara paparan sinar UV dan kanker kulit telah dibagikan secara luas kepada publik," ujar Dr. Elizabeth K. Hale selaku dermatolog dan senior vice president dari The Skin Cancer Foundation. Sayangnya, budaya tanning kembali marak meskipun upaya edukasi risiko kesehatan terus digencarkan.
Para ahli menjelaskan bahwa tren ini didorong oleh kuatnya pengaruh kecantikan visual di media sosial serta kecenderungan usia muda yang lebih mengutamakan penampilan fisik saat ini dibandingkan konsekuensi kesehatan jangka panjang. Paparan video dari para influencer yang memamerkan garis cokelat secara berulang membuat otak menginterpretasikan perilaku tersebut sebagai hal yang normal dan lumrah dilakukan oleh banyak orang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSelain itu, masifnya disinformasi mengenai produk pelindung sinar matahari di platform digital turut memperparah situasi ini. Studi pada Juni 2026 mengungkapkan bahwa informasi keliru tentang sunscreen justru memeroleh tingkat interaksi audiens yang jauh lebih tinggi sehingga membuat sebagian anak muda mudah percaya pada klaim tanpa dasar ilmiah.
Dampak Jangka Panjang dan Mitos Sunscreen di Media Sosial
Dampak buruk dari mengabaikan perlindungan matahari tidak langsung dirasakan dalam waktu dekat melainkan terakumulasi secara diam-diam selama bertahun-tahun. Kerusakan akibat radiasi ultraviolet dapat memicu penuaan dini hingga meningkatkan risiko kanker kulit yang baru muncul di kemudian hari.
"Masalahnya adalah kerusakan UV menumpuk secara diam-diam di dalam kulit dan mungkin tidak akan terlihat selama bertahun-tahun," ungkap Dr. Annette Czernik selaku dermatolog. Hal tersebut kerap menciptakan rasa aman palsu bagi anak muda yang berpikir bahwa tidak terjadi apa-apa setelah beberapa kali berjemur tanpa perlindungan.
Di sisi lain, para ahli menegaskan bahwa tidak ada bukti kuat yang menunjukkan sunscreen menyebabkan kanker pada manusia jika digunakan sesuai petunjuk. Sebaliknya, penggunaan pelindung berbahan dasar mineral seperti zinc oxide dan titanium dioxide terbukti aman serta efektif mengurangi risiko kanker akibat paparan sinar UV.
Sebagai alternatif bagi yang menginginkan penampilan kulit kecokelatan tanpa risiko bahaya radiasi, para ahli menyarankan untuk memanfaatkan produk self-tanner atau spray tan. Langkah preventif ini dinilai jauh lebih aman dibandingkan mempertaruhkan kesehatan kulit demi mengikuti tren sesaat di media sosial.