Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Hubungan Seksual dan Rasa Cinta:...
BERITA

Hubungan Seksual dan Rasa Cinta: Penelitian Ungkap Fakta Baru tentang Pasangan

By Redaksi Kabayan News 3 min read 16 Agustus 2026
Ilustrasi pasangan yang sedang berdiskusi mengenai hubungan asmara

Ilustrasi pasangan yang sedang berdiskusi mengenai hubungan asmara

Pasangan yang sangat mencintai satu sama lain ternyata tidak selalu melakukan hubungan seksual lebih sering, menurut temuan dari penelitian terbaru. Anggapan umum bahwa lebih banyak rasa cinta otomatis berarti lebih banyak aktivitas seksual terbantahkan oleh ulasan ilmiah ini.

Tinjauan yang dipublikasikan dalam jurnal Current Sexual Health Reports tersebut menemukan bahwa tidak ada korelasi langsung antara frekuensi seksual dan tingkat kecintaan terhadap pasangan. Keadaan sedang jatuh cinta memang dikaitkan dengan peningkatan frekuensi seksual secara umum, namun intensitas perasaan tersebut tidak berpengaruh secara signifikan.

Data dalam ulasan ini merujuk pada temuan dari Romantic Love Survey 2022, survei terbesar di dunia mengenai orang-orang yang mengalami cinta romantis, yang melibatkan 1.500 responden dari 33 negara. Hasilnya memberikan sudut pandang baru mengenai bagaimana emosi dan keintiman saling terkait dalam hubungan modern.

Studi ini juga menyoroti perbedaan frekuensi berdasarkan fase hubungan, di mana pasangan baru atau yang berada dalam periode bulan madu cenderung lebih sering berhubungan intim dibandingkan pasangan dengan hubungan jangka panjang.

Latar Belakang dan Temuan Survei Global

Penelitian ini menganalisis data dari ribuan responden di berbagai belahan dunia untuk memahami hubungan antara emosi romantis dan perilaku seksual. Data menunjukkan bahwa orang dewasa muda dalam hubungan baru melaporkan rata-rata melakukan hubungan seksual sebanyak 3,5 kali seminggu.

Sebagai perbandingan, pasangan yang sudah menikah cenderung melakukan hubungan seksual sekitar sekali seminggu. Perbedaan ini menegaskan bahwa durasi hubungan dan fase awal atau fase honeymoon memberikan pengaruh yang cukup besar terhadap aktivitas intim.

Meskipun fase awal hubungan mendongkrak frekuensi, para peneliti menemukan bahwa faktor-faktor seperti tingkat komitmen dan pemikiran obsesif justru tidak berdampak pada seberapa sering pasangan berhubungan intim.

Temuan ini menepis anggapan bahwa intensitas emosional yang tinggi secara otomatis diterjemahkan ke dalam frekuensi hubungan seksual yang lebih tinggi pula dalam jangka panjang.

Perspektif Ahli dan Faktor yang Memengaruhi Keintiman

Dr Natasha Langan, seorang psikolog klinis dan terapis psikoseksual akreditasi yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut, menyatakan bahwa dirinya tidak terkejut dengan temuan ini. Menurutnya, perilaku seksual dipengaruhi oleh berbagai variabel yang sangat kompleks.

"Sexual frequency is influenced by a wide range of individual, relational and contextual factors, so it's unlikely that any one variable, including the intensity of love, can fully explain it," ujar Langan saat diwawancarai.

Ia menambahkan bahwa faktor komunikasi seksual, fungsi dan makna seks dalam hubungan, harga diri seksual, kesehatan mental, hingga tingkat stres dan kesehatan fisik memegang peranan penting. Hasrat seksual dibentuk oleh dinamika konteks, bukan sekadar ukuran cinta kepada pasangan.

Data faktual dari ulasan ini menegaskan bahwa dinamika keintiman manusia bersifat multidimensional, di mana berbagai aspek psikologis dan sosial saling berinteraksi secara bersamaan.

Topics
sains hubungan psikologi cinta kesehatan
Tim Jurnalis & Analis Berita

Redaksi Kabayan News adalah tim jurnalis profesional, analis, dan kreator konten yang berdedikasi menyajikan berita nasional dan internasional terlengkap. Dari berita politik breaking news hingga analisis ekonomi mendalam, kami hadir untuk masyarakat Indonesia yang cerdas dan haus akan informasi berkualitas.