Harapan hidup atau life expectancy merupakan ukuran statistik untuk mengestimasi rata-rata tahun sisa kehidupan pada usia tertentu. Metode yang paling umum digunakan adalah harapan hidup saat lahir (life expectancy at birth), yang mencerminkan rata-rata durasi hidup bagi kelompok kelahiran tertentu dengan asumsi mereka terpapar pada tingkat mortalitas yang diamati pada tahun tersebut.
Data menunjukkan angka harapan hidup global terus mengalami dinamika. Sebagai contoh, pada 2019, rata-rata harapan hidup dunia mencapai 73,3 tahun. Namun, angka ini sangat dipengaruhi oleh tingkat kematian bayi dan kematian di usia dewasa muda akibat berbagai faktor, seperti kecelakaan, wabah penyakit, hingga perang sebelum kemajuan medis tersedia secara luas.
Penting untuk membedakan antara harapan hidup, umur panjang (longevity), dan rentang hidup maksimum. Longevity merujuk pada masa hidup yang relatif panjang dari anggota populasi, sementara rentang hidup maksimum adalah usia kematian individu dengan masa hidup terpanjang dalam suatu spesies yang dalam kasus manusia rekornya dipegang oleh Jeanne Calment pada usia 122 tahun.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBanyak pihak sering menyalahartikan harapan hidup rendah sebagai indikasi bahwa populasi tersebut tidak memiliki warga lanjut usia. Padahal, harapan hidup sangat sensitif terhadap tingkat kematian di tahun-tahun pertama kehidupan, sehingga ukuran lain seperti harapan hidup pada usia 5 tahun sering digunakan untuk mengecualikan dampak kematian bayi dalam analisis mortalitas.
Faktor yang Memengaruhi Tren Harapan Hidup Global
Variasi harapan hidup di berbagai belahan dunia sangat dipengaruhi oleh perbedaan standar kesehatan masyarakat, akses layanan medis, serta pola diet. Jepang, misalnya, dikenal memiliki salah satu angka harapan hidup tertinggi di dunia berkat sistem kesehatan publik yang sangat baik serta budaya makan yang sehat.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa pandemi COVID-19 sempat membalikkan tren peningkatan harapan hidup yang stabil selama beberapa dekade. Dampak pandemi ini digambarkan cukup signifikan dalam menghapus hampir satu dekade kemajuan dalam upaya peningkatan harapan hidup di tingkat global.
Kesenjangan ekonomi juga menjadi faktor penentu yang signifikan. Di banyak negara, termasuk Amerika Serikat dan Inggris, terdapat perbedaan mencolok dalam harapan hidup antara warga di wilayah kaya dan wilayah miskin. Faktor seperti gaya hidup, kebiasaan merokok, tingkat polusi, hingga kondisi kemiskinan antargenerasi di suatu lingkungan turut berperan dalam kesenjangan ini.
Meski demikian, secara historis, langkah-langkah kesehatan masyarakat telah terbukti memberikan kontribusi terbesar dalam peningkatan usia harapan hidup selama 200 tahun terakhir. Kemajuan dalam sanitasi, vaksinasi, dan pencegahan penyakit menular terus menjadi pilar utama yang memungkinkan manusia hidup lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya.