Gelar Yang Mulia sebagai terjemahan dari kata Excellency merupakan gaya kehormatan bagi pejabat tinggi tertentu dari negara berdaulat, pejabat organisasi internasional, atau anggota aristokrasi. Pemegang hak gelar tersebut umumnya mempertahankan hak atas kesopanan sepanjang hidup mereka, meskipun dalam beberapa kasus gelar melekat pada jabatan tertentu.
Orang yang mendapat sebutan Excellency umumnya mencakup kepala negara, kepala pemerintahan, gubernur, duta besar, uskup Katolik Roma, rohaniwan berpangkat tinggi, hingga kepala organisasi internasional. Anggota keluarga kerajaan biasanya memiliki gaya sapaan berbeda seperti Majesty atau Highness.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeExcellency mendahului berbagai gelar yang dipegang oleh pemegangnya, baik dalam bentuk tulisan maupun pidato langsung. Sehubungan dengan pejabat tersebut, bentuk sapaannya adalah His atau Her Excellency, panggilan langsung Your Excellency, atau singkatan HE.
Takhta Suci menganugerahkan sebutan Yang Mulia Reverendissimus kepada para uskup Gereja Katolik melalui dekrit Kongregasi Suci Seremonial. Duta Besar Takhta Suci atau Nunsius Apostolik juga berhak atas sebutan kehormatan ini.
Penggunaan Gelar dalam Konteks Keagamaan
Instruksi Ut sive sollicite dari Sekretariat Negara Takhta Suci menjadikan penambahan Reverendissimus sebagai hal yang opsional bagi para pejabat keagamaan. Aturan tersebut memperbarui tata cara penyapaan resmi dalam hierarki gereja.
Surat dekrit yang sama menetapkan bahwa para patriark tituler harus disapa dengan gelar Yang Mulia Reverendissimus. Namun pada kenyataannya, Takhta Suci tetap menyapa mereka dengan gelar Yang Berbahagia.
Gelar resmi tersebut secara khusus disahkan melalui motu proprio Cleri Sanctitati untuk mengatur tata sapaan para pemimpin keagamaan tertinggi. Ketentuan ini berjalan sesuai dengan tradisi panjang yang berlaku di Vatikan.
Dalam agama Buddha di Tibet, Dalai Lama sering disebut dengan panggilan resmi ini. Pemimpin agama Buddha seperti Sakya Trizin sebagai batrik dari Sakyapa turut menerima sapaan serupa.