Film Misteri dari Gunung Merapi Penghuni Rumah Tua dirilis pada tahun 1989 dan diadaptasi dari sandiwara radio populer karya Asmadi Sjafar. Sinema horor mistik klasik ini disutradarai oleh L Sudjio serta dibintangi oleh jajaran aktor papan atas pada masanya seperti Fendy Pradana, Ida Iasha, hingga Farida Pasha.
Cerita bermula ketika penguasa hutan larangan bernama Kakek Jabat yang diperankan oleh Piet Pagau mengangkat Sembara diperankan Fendy Pradana sebagai anak asuh. Sembara diharuskan menjelajah pedalaman hutan larangan untuk menuntut ilmu demi meningkatkan kesaktiannya, sementara kekasihnya Farida diperankan Ida Iasha berjanji setia menunggu kepulangannya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeNamun, niat Sembara tersebut mendapat tentangan keras dari orang tua Farida yaitu Rosminah diperankan Rina Hassim dan Raisman diperankan Asrul Zulmi yang berusaha memutus hubungan mereka. Beruntung, Sembara mendapatkan pertolongan dari Datuk Panglima Kumbang atau Si Manusia Harimau diperankan Gino Makasutji saat menghadapi berbagai rintangan.
Setelah menuntaskan proses belajar ilmu kesaktian, Sembara keluar dari hutan dengan misi khusus membunuh Mardian diperankan Baron Hermanto yaitu manusia harimau lain yang haus darah. Sembara mendapati kenyataan pahit karena Mardian telah menikahi Farida secara paksa, sehingga ia diliputi rasa kecewa mendalam saat kembali.
Puncak Konflik dan Akhir Kisah Sembara
Kesempatan emas bagi Sembara untuk menuntaskan misinya datang ketika Mardian berubah menjadi buas dan berniat memangsa Farida. Tanpa ragu, Sembara mengerahkan seluruh kesaktiannya untuk menghadapi manusia harimau keji tersebut demi menyelamatkan perempuan yang dicintainya.
Sembara berhasil membunuh Mardian dalam pertarungan sengit sekaligus menyelamatkan nyawa Farida dari cengkeraman maut. Melalui keberhasilan tersebut, Sembara dan Farida akhirnya dapat bersatu kembali setelah melewati berbagai ujian berat dan rintangan mistis.
Adaptasi layar lebar ini sukses menerjemahkan kesuksesan sandiwara radio aslinya ke dalam medium visual yang digemari penonton bioskop Indonesia era akhir delapan puluhan. Nuansa mistis hutan larangan dan pertarungan antarmanusia harimau menjadi daya tarik utama bagi para pencinta film horor lokal.
Kehadiran para bintang senior dalam film ini meninggalkan kesan mendalam bagi industri sinema tanah air. Karya klasik garapan L Sudjio ini tetap dikenang sebagai salah satu tonggak penting dalam sejarah perkembangan film bertema mistis di Indonesia.