Profil Glastonbury Festival mencakup sejarah panjang sebagai perhelatan akbar seni pertunjukan kontemporer yang rutin digelar di lahan pertanian seluas 1500 hektar dekat Pilton, Somerset, Inggris. Dikenal secara kolokial sebagai Glastonbury atau Glasto, acara tahunan ini memadukan konser musik pop dan rock bersama pementasan tari, komedi, teater, sirkus, serta kabaret di berbagai panggung megah.
Gagasan festival bermula ketika Michael Eavis menyaksikan konser terbuka Led Zeppelin pada tahun 1970 di Bath Festival of Blues and Progressive Music. Eavis terinspirasi mendirikan ajang serupa di peternakan miliknya, Worthy Farm, yang kemudian melahirkan edisi perdana bertajuk Pilton Festival dengan kehadiran sekitar 1500 penonton.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSeiring berjalannya waktu, perhelatan ini berkembang pesat hingga menarik sekitar 200000 pengunjung dari berbagai belahan dunia setiap kali diselenggarakan. Angka tersebut pernah mencatatkan rekor fantastis mencapai 300000 orang pada penyelenggaraan tahun 1994 ketika kelompok musik Levellers tampil memukau di atas Pyramid Stage.
Berdasarkan catatan sejarah budaya Inggris, festival ini mengusung etos kaum hippie serta gerakan protes sosial dari era 1960-an yang tetap dipertahankan melalui area khusus Green Fields. Sebagian besar staf pengelola bekerja secara sukarela demi membantu menyalurkan jutaan poundsterling hasil keuntungan kepada berbagai yayasan amal internasional.
Transformasi besar terjadi pada dekade 1980-an ketika acara ini resmi menjadi agenda tahunan tetap dengan dukungan berbagai kampanye lingkungan serta perdamaian dunia. Penggunaan struktur panggung ikonik dari tiang telegraf bekas turut menandai babak baru kemandirian finansial dan perluasan siaran televisi bagi jutaan pemirsa di seluruh penjuru negeri.