Gerakan 1 Maret atau yang dikenal luas sebagai March First Movement merupakan rangkaian aksi protes kolosal menentang penjajahan kolonial Jepang yang digelar di seluruh penjuru Korea serta diaspora internasional sejak 1 Maret 1919. Aksi bersejarah ini terkonsentrasi secara masif pada bulan Maret dan April tahun tersebut, meskipun gelombang protes susulan terus bergulir hingga tahun 1921. Di Korea Selatan, peristiwa ini dikenang sebagai tonggak monumental bukan hanya dalam sejarah pergerakan kemerdekaan nasional, tetapi juga lembaran penting seluruh perjalanan sejarah bangsa Korea.
Gelombang protes bermula di jantung kota Seoul melalui pembacaan terbuka Deklarasi Kemerdekaan Korea di restoran T'aehwagwan serta kawasan Tapgol Park yang dipadati massa. Pergerakan ini kemudian berkembang dan menyebar dengan sangat cepat ke berbagai daerah di semenanjung Korea, melibatkan ribuan aksi protes dengan partisipasi jutaan rakyat dari berbagai kalangan. Di tengah total populasi Korea saat itu yang berkisar antara 16 hingga 17 juta jiwa, gerakan ini mencerminkan bentuk perlawanan kolektif yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap cengkeraman kekuasaan asing.
Meskipun aksi protes tersebut dilakukan secara damai, pihak otoritas kolonial Jepang meresponsnya dengan tindakan penindasan yang sangat keras dan brutal. Berdasarkan estimasi catatan sejarah pada masa itu, aksi represif aparat keamanan mengakibatkan ribuan korban jiwa serta puluhan ribu penangkapan massal terhadap warga sipil yang menuntut kebebasan. Jepang bahkan berupaya menjalankan kampanye disinformasi global untuk menutupi fakta kekerasan tersebut, termasuk menyangkal terjadinya demonstrasi hingga melabelinya sebagai kerusuhan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendati belum membuahkan kemerdekaan instan bagi Korea dalam waktu dekat, pergerakan tersebut memberikan dampak transformatif yang sangat besar bagi masa depan bangsa. Peristiwa ini berhasil mengobarkan semangat juang kemerdekaan, memicu pembentukan Pemerintahan Sementara Korea, serta memaksa pemerintah kolonial Jepang melonggarkan kebijakan domestik mereka melalui penerapan aturan kultural. Hingga kini, hari bersejarah tersebut diperingati sebagai hari libur nasional di Korea Selatan untuk mengenang jasa para pahlawan bangsa.
Latar Belakang Ketidakpuasan Rakyat Terhadap Kolonialisme
Aneksasi formal yang dilakukan Jepang atas Korea pada tahun 1910 menandai dimulainya era penindasan ekonomi, politik, dan budaya yang sangat ketat. Kebijakan asimilasi paksa serta pengambilalihan tanah secara sepihak memicu kemerosotan drastis taraf hidup para petani dan buruh lokal.
Situasi semakin memanas setelah berakhirnya Perang Dunia I ketika Presiden Amerika Serikat Woodrow Wilson menyuarakan prinsip penentuan nasib sendiri bagi setiap bangsa. Doktrin tersebut membangkitkan harapan besar di kalangan rakyat Korea yang mendambakan kebebasan dari cengkeraman imperialisme asing.
Selain itu, kematian mendadak mantan Kaisar Gojong pada Januari 1919 memicu kecurigaan luas di tengah masyarakat bahwa sang penguasa diracuni oleh pihak Jepang. Kemarahan publik atas kematian misterius tersebut menjadi katalisator krusial yang menyulut kemunculan aksi protes massal secara serentak.
Para pemimpin berbagai elemen masyarakat, termasuk kelompok agama Cheondoism, kaum intelektual, dan pelajar, kemudian merapatkan barisan untuk merancang perlawanan tanpa kekerasan. Kolaborasi lintas sektor ini berhasil menyatukan rakyat Korea dalam satu tekad bulat memperjuangkan hak kemerdekaan.