Kabayan News Kabayan News
/home / berita / Sia-sia 360 Terawatt Jam, Energi...
BERITA

Sia-sia 360 Terawatt Jam, Energi Hijau China Bisa Hidupkan Inggris

By Dewi Lestari 2 min read 17 Agustus 2026
China menyia-nyiakan 360 terawatt jam energi terbarukan akibat kapasitas jaringan listrik

China menyia-nyiakan 360 terawatt jam energi terbarukan akibat kapasitas jaringan listrik

China menyia-nyiakan seperempat dari total energi angin dan surya yang dihasilkannya pada paruh pertama tahun 2026 akibat kapasitas jaringan listrik yang tidak mampu menampungnya. Berdasarkan laporan Centre for Research on Energy and Clean Air serta Global Energy Monitor, Negeri Tirai Bambu membuang hingga 360 terawatt jam (TWh) listrik bersih sepanjang periode Januari hingga Juni 2026.

Jumlah energi yang terbuang tersebut melonjak sebesar 49 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Ironisnya, volume energi terbarukan yang disia-siakan ini setara dengan total konsumsi listrik tahunan di negara seperti Inggris atau Meksiko.

Praktik pembuangan listrik ini dikenal sebagai curtailment, di mana operator terpaksa mematikan turbin angin dan panel surya karena jaringan transmisi tidak memiliki ruang lagi. Akibat tidak adanya fasilitas penyimpanan yang memadai dan lambatnya pembangunan jalur transmisi dari wilayah barat ke kota-kota industri di timur, energi hijau tersebut hilang begitu saja di atas kabel.

Dampak dari pembuangan energi ini membuat pertumbuhan permintaan listrik di China justru ditopang kembali oleh bahan bakar fosil. Pembangkit listrik tenaga uap berbahan bakar batu bara di China tercatat naik 3,4 persen secara tahunan pada paruh pertama 2026, membalikkan tren penurunan yang sempat terjadi selama satu dekade terakhir.

Dilema Pembangunan Batu Bara dan Tantangan Transmisi

Akar permasalahan dari pembuangan energi hijau ini adalah masifnya pembangunan pembangkit listrik tenaga uap batu bara yang terus berlanjut di tengah gencar-gencarnya ekspansi energi terbarukan. China mengoperasikan 30 gigawatt (GW) kapasitas batu bara baru pada paruh pertama 2026, angka tertinggi dalam satu dekade terakhir dan meningkat 43 persen dari tahun sebelumnya.

Kontrak jangka panjang yang menjamin porsi permintaan bagi pembangkit batu bara membuat ruang pada jaringan listrik tetap diprioritaskan untuk bahan bakar fosil. Kebijakan ini menciptakan sistem kelistrikan dengan kapasitas berlebih yang justru mengorbankan potensi pemanfaatan energi bersih secara optimal.

Kendala fisik berupa kurangnya infrastruktur transmisi turut memperparah situasi karena jalur kabel belum dibangun cukup cepat untuk memindahkan listrik dari gurun di utara dan barat ke kota-kota industri di timur. Para analis memperkirakan tekanan pembuangan energi ini akan terus berlanjut hingga akhir dekade jika masalah infrastruktur grid tidak segera diatasi.

Sebagai solusi jangka panjang, para peneliti dan analis energi menilai integrasi baterai penyimpan daya merupakan kunci utama. Penambahan fasilitas baterai skala besar yang dipasangkan langsung dengan proyek tenaga surya dan angin dapat menyimpan kelebihan pasokan di siang hari untuk digunakan pada malam hari.

Topics
china energi terbarukan panel surya turbin angin batu bara listrik krisis energi infrastruktur lingkungan global energy monitor
Koresponden Internasional & Analis Global

Dewi membawa perspektif global untuk pembaca Kabayan News. Dengan pengalaman tinggal di Amerika Serikat, Inggris, dan Singapura, ia memahami dinamika geopolitik dan ekonomi dunia. Kini berbasis di Jakarta, ia meliput bagaimana isu global berdampak pada Indonesia, dengan fokus pada hubungan internasional, perdagangan global, dan isu-isu kemanusiaan.