Spanyol dan Maroko memperketat pengamanan di kedua sisi perbatasan enklave Afrika milik Spanyol, Ceuta, menyusul maraknya seruan di media sosial yang mengajak para migran melakukan aksi penerobosan massal jilid dua.
Patroli militer terlihat menyambangi kawasan gedung komersial dan pemerintahan pada Jumat, sementara peningkatan personel kepolisian tampak berjaga di sejumlah jalan utama kota Ceuta.
Di sisi wilayah Maroko, aparat keamanan berpakaian serba hitam tampak berpatroli di sepanjang pantai Fnideq yang sebelumnya menjadi titik awal gelombang migran ilegal pada akhir Juli lalu.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePeningkatan pengamanan perbatasan ini dipicu oleh temuan serangkaian publikasi anonim di media sosial yang mengajak masyarakat melakukan penyeberangan kolektif secara ilegal ke wilayah Ceuta dan Melilla.
Ribuan Migran Masih Tertahan di Wilayah Spanyol
"Kementerian Dalam Negeri mendeteksi peredaran pesan anonim di media sosial yang menghasut upaya penyeberangan kolektif ilegal dengan risiko keselamatan yang tinggi," tulis keterangan resmi Kementerian Dalam Negeri Maroko.
Menanggapi ancaman tersebut, aparat keamanan Maroko langsung menangkap beberapa oknum yang kedapatan menyebarkan provokasi, sementara pihak berwenang Spanyol telah memasang penghalang apung di perairan perbatasan.
Dari puluhan ribu migran yang sempat menerobos perbatasan pada bulan lalu, sebagian besar dilaporkan telah kembali ke Maroko melalui proses pemulangan sukarela maupun deportasi.
Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengungkapkan bahwa saat ini masih ada sekitar 5.000 migran yang bertahan di Ceuta dan sedang menjalani proses pemeriksaan oleh pejabat berwenang.
Otoritas Spanyol sejauh ini telah memproses sekitar 500 pengajuan suaka dari para migran yang tersisa, namun sebagian besar permohonan tersebut ditolak oleh petugas imigrasi.
Di sisi lain, pemerintah Maroko mendesak Spanyol agar mempercepat proses pemulangan sisa warga negaranya yang masih tertahan di enklave tersebut kembali ke wilayah Afrika Utara.
Insiden migrasi massal sebelumnya telah mencatat korban jiwa sebanyak sedikitnya 96 orang, sehingga kedua negara berkomitmen meningkatkan kerja sama pengamanan guna mencegah tragedi serupa terulang kembali.