Pasien dewasa dengan diagnosis baru acute myeloid leukemia atau AML yang menerima kombinasi obat azacitidine dan venetoclax mencatatkan waktu lebih dari dua kali lipat sebelum pengobatan gagal, penyakit memburuk, atau terjadi kematian dibandingkan kemoterapi intensif.
Temuan dari uji klinis tahap 2 yang melibatkan 172 orang dewasa di 9 pusat kesehatan Amerika Serikat ini dipublikasikan dalam The New England Journal of Medicine dan berpotensi mengubah pendekatan pengobatan awal bagi banyak pasien AML.
Studi mencatat pasien yang menerima kombinasi ringan tersebut mampu bertahan hingga 14,5 bulan sebelum penyakitnya kambuh atau memburuk, jauh lebih lama daripada 6,2 bulan pada kelompok kemoterapi intensif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
Subscribe"Pengobatan yang kurang intensif tidak selalu berarti pengobatan yang kurang efektif," ujar penulis utama Dr. Amir T. Fathi selaku direktur Program Leukemia di Mass General Brigham Cancer Institute.
Angka Remisi Lebih Tinggi dan Waktu Rawat Inap Lebih Singkat
Terapi kombinasi tersebut berhasil membawa 78 persen pasien ke dalam kondisi remisi, sementara kelompok kemoterapi intensif hanya mencapai 53 persen.
Selain itu, pasien yang mendapatkan kombinasi azacitidine dan venetoclax mengalami lebih sedikit infeksi serius serta masalah pendarahan selama masa perawatan.
Dalam 30 hari pertama, pasien dengan terapi kombinasi menghabiskan waktu rawat inap di rumah sakit selama 12,5 hari, jauh lebih singkat dibandingkan 27,3 hari bagi pasien kemoterapi intensif.
Hasil positif tersebut juga membuat lebih banyak pasien melanjutkan ke tahap transplantasi sel punca, yakni mencapai 60 persen dibandingkan 40 persen pada kelompok kemoterapi intensif.