Wanita yang menjalani terapi hormon menopause khusus estrogen memiliki risiko lebih rendah untuk mengalami perubahan otak terkait penyakit Alzheimer serta demensia. Temuan penting ini berdasarkan studi komprehensif dari Universitas Stanford yang diterbitkan dalam jurnal Neurology pada 12 Agustus 2026.
Tim periset menganalisis data post-mortem dari 21.462 partisipan dengan membandingkan 258 wanita yang menggunakan terapi hormon estrogen dengan sekitar 2.701 wanita tanpa riwayat terapi serupa. Pemeriksaan difokuskan pada tanda-tanda kerusakan otak khas penyakit pikun tersebut, termasuk plak amiloid dan kekusutan neurofibrilar.
Hasil analisis menunjukkan bahwa kelompok wanita pengguna terapi hormon estrogen tunggal mempunyai peluang 35 persen lebih rendah terhadap patologi Alzheimer. Selain itu, mereka juga mencatatkan kemungkinan demensia seumur hidup yang lebih rendah hingga 39 persen dibanding kelompok pembanding.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBeberapa partisipan yang masih hidup bahkan menunjukkan performa tes memori lebih baik serta kemampuan fungsi mandiri yang optimal. Berbagai biomarker darah dan cairan serebrospinal turut memperkuat validitas hasil penemuan medis tersebut.
Mekanisme Perlindungan Otak dan Kebutuhan Riset Lanjutan
Usia rata-rata para partisipan dalam riset ini adalah 70 tahun dengan mayoritas telah menjalani prosedur histerektomi sebelum memulai terapi. Para peneliti mencatat manfaat perlindungan tersebut berpotensi menjadi jauh lebih besar jika terapi dimulai sejak awal masa menopause.
Keterangan ilmiah mengenai manfaat tersebut diperkuat oleh penjelasan Jennifer Bruno selaku instruktur psikiatri dan ilmu perilaku di universitas terkait. Menurutnya, hormon estrogen memiliki sifat neuroprotektif yang berperan aktif dalam menekan peradangan saraf serta mendukung integritas sawar darah otak.
"Estrogen berperan mengarahkan amiloid menuju jalur non-amiloidogenik dan mendukung plastisitas sinaptik sehingga temuan patologi Alzheimer yang lebih rendah pada pengguna estrogen sangat konsisten dengan mekanisme ini," ujar Jennifer.
Kendati demikian, para peneliti menegaskan bahwa studi bersifat observasional ini baru sebatas menunjukkan kaitan erat dan belum membuktikan hubungan sebab-akibat secara mutlak. Faktor kesehatan awal atau keterlibatan dalam layanan kesehatan bisa saja memengaruhi perbedaan hasil antar kelompok partisipan.
Oleh karena itu, para ahli menilai temuan ini belum cukup untuk mengubah pedoman klinis yang berlaku saat ini secara langsung. Diperlukan uji klinis prospektif berbasis biomarker lebih mendalam guna memastikan efek perlindungan kognitif dari terapi hormon tersebut.