Sistem penamaan kelompok peretas global kini menjadi perhatian utama industri keamanan siber setelah Google memutuskan merombak skema identifikasi ancaman. Langkah tersebut diambil guna mengatasi kebingungan akibat banyaknya sebutan berbeda untuk satu sindikat peretas yang sama.
Menurut Shane Huntley selaku Chief Technology Officer Google Threat Intelligence Group, industri keamanan siber awalnya tidak pernah memperkirakan jumlah kelompok peretas berkembang sangat pesat seperti sekarang. Saat ini Google bahkan memantau lebih dari 5.000 klaster aktivitas siber di berbagai negara.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebelum pembaruan sistem ini, industri keamanan sering menggunakan istilah membingungkan seperti sebutan numerik APT yang diadopsi dari Mandiant. Melalui sistem baru, Google menyederhanakan penamaan dengan menggabungkan kata acak dan kata kedua yang menunjukkan negara asal seperti Castle untuk China atau Relic untuk Rusia.
Berdasarkan analisis awak media, penamaan kelompok peretas bukan sekadar latihan akademis atau kosmetik semata. Identifikasi konsisten sangat krusial bagi organisasi agar mereka mengenali pola serangan dengan cepat, memahami perilaku musuh, serta memperkuat pertahanan digital.
Huntley menjelaskan peretas disponsori pemerintah cenderung lebih mudah dilacak karena memiliki target konsisten dibandingkan kelompok kriminal siber yang lebih amorf. Kendati demikian, perbedaan sudut pandang data antar perusahaan membuat keseragaman nama global sulit terwujud sepenuhnya.