Sebagaimana diwartakan, perbincangan hangat mengenai sistem pengelompokan desil masyarakat mendadak ramai diperbincangkan publik setelah sejumlah warga, termasuk komedian tunggal Dewangga Pribaditya, heran mendapati status keluarganya masuk dalam desil 10 atau tingkat paling sejahtera.
Berdasarkan laporan data, Dewangga melalui video media sosialnya mempertanyakan penetapan tersebut lantaran dirinya mengaku hanya memiliki penghasilan minim dan tidak memiliki aset berharga seperti rumah maupun kendaraan.
Kebingungan serupa ternyata banyak dialami masyarakat luas seiring rencana pemerintah membatasi penyaluran bahan bakar minyak bersubsidi bagi penduduk yang masuk dalam kelompok desil 9 dan 10.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan penjelasan Badan Pusat Statistik (BPS), desil merupakan pembagian tingkat kesejahteraan penduduk ke dalam 10 kelompok dari yang paling miskin hingga sangat kaya yang dicatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional.
Menurut Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Arief Anshory Yusuf, pembagian desil di negara berkembang seperti Indonesia tidak dihitung langsung dari pendapatan formal karena tingginya pekerja sektor informal.
Pemerintah menggunakan metode uji proksi melalui program Registrasi Sosial Ekonomi dengan mengumpulkan puluhan variabel seperti kepemilikan aset, konsumsi listrik, hingga kondisi rumah tangga.
Estimasi model statistik tersebut memperkirakan skor kesejahteraan masyarakat, yang menurut para ahli tidak luput dari risiko kesalahan maupun ketidakakuratan data di lapangan.
Selain faktor ketidakakuratan data administrasi, Arief menilai bahwa perasaan ekonomi pas-pasan pada kelompok desil 10 merupakan hal yang alamiah karena manusia cenderung membandingkan kehidupannya dengan orang lain di lingkungan sekitarnya.
"Mobil kita Kijang, lihat sebelah Ferrari, lalu merasa kita biasa-biasa saja. Padahal di tempat lain di Indonesia, ada orang yang untuk mobilitas sehari-hari masih mengandalkan jalan kaki," ujar Arief sebagaimana dikutip dari laporan media.
Laporan Bank Dunia mencatat bahwa kelompok rumah tangga dengan kesejahteraan tertinggi atau desil 9 dan 10 selama ini justru menikmati sebagian besar subsidi energi karena kepemilikan kendaraan pribadi yang masif.
Oleh karena itu, reformasi subsidi energi dan pembenahan basis data kesejahteraan tetap menjadi langkah krusial agar alokasi anggaran negara dapat tersalurkan secara lebih tepat sasaran.