Sistem manajemen tenaga kerja berbasis kecerdasan buatan di gudang Amazon menghadapi kendala pelik akibat penolakan dari para manajer lapangan.
Berdasarkan laporan Business Insider, para manajer kerap mengabaikan rekomendasi algoritma komputer karena dinilai tidak sejalan dengan realitas operasional gudang.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendala utama muncul karena pekerja manusia kehilangan kepercayaan pada sistem otomatisasi tersebut, terutama ketika alokasi staf dinilai terlalu minim dan mengancam produktivitas.
Para pengawas di lapangan menganggap lingkungan kerja gudang terlalu dinamis bagi komputer untuk mengambil keputusan secara akurat, sehingga mereka sering mencari celah guna menambah jam kerja staf.
Amazon kesulitan meningkatkan kinerja sistem karena tindakan manajer yang terus-menerus melakukan pengabaian membuat algoritma gagal beradaptasi secara optimal.
Berdasarkan pengamatan tim redaksi, gesekan antara pekerja dan sistem otomatisasi mencerminkan tantangan besar dalam penerapan teknologi di lingkungan kerja modern.
Perusahaan ritel raksasa tersebut membela sistem mereka dan menyatakan bahwa penolakan hanya mencerminkan sebagian kecil pengalaman dari segelintir pengawas.
Menanggapi situasi ini, Amazon berencana menerapkan kontrol lebih ketat guna membatasi intervensi manual dari para manajer di masa mendatang.