Profil The Teng Chun mencatat perjalanan seorang pionir perfilman Hindia Belanda berlatar belakang Tionghoa yang lahir di Batavia pada 18 Juni 1902. Terlahir dari keluarga pebisnis kaya bernama The Kim Ie, ia justru memilih mendalami dunia pembuatan film alih-alih meneruskan bisnis perdagangan ayahnya.
Ketertarikan tersebut membawanya merantau ke Amerika Serikat pada tahun 1920 untuk belajar ekonomi sekaligus mendalami produksi film di Palmer Play Theater. Setelah menimba ilmu selama lima tahun di negeri Paman Sam dan sempat singgah di Shanghai, ia kembali ke tanah kelahiran untuk merintis industri perfilman lokal.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSekembalinya ke Batavia pada tahun 1930, ia mendirikan rumah produksi Cino Motion Pictures dan merilis film suara pertama di Hindia Belanda berjudul Boenga Roos dari Tjikembang. Di tengah hantaman krisis akibat Depresi Besar, perusahaan miliknya mendominasi industri perfilman lokal dengan mengangkat kisah mitologi serta seni bela diri Tiongkok.
Perusahaan tersebut kemudian bertransformasi menjadi Java Industrial Film pada tahun 1935 dengan melibatkan saudara-saudaranya untuk memperkuat manajemen produksi. Memasuki era kemerdekaan Indonesia, ia bersama rekannya mendirikan Bintang Soerabaja sebelum akhirnya menghabiskan sisa hidup sebagai guru bahasa Inggris hingga menutup usia pada 25 Februari 1977.
Transformasi Java Industrial Film Hingga Akhir Hayat
Perkembangan industri film yang dipimpinnya terus berlanjut hingga tahun 1938 ketika Java Industrial Film mulai menggeser fokus produksi pada isu-isu modern. Perubahan arah ini dilakukan sebagai bentuk respons atas kemunculan film-film bernuansa kontemporer karya pembuat film lain di tanah air.
Namun, operasional perusahaan film tersebut harus berhenti total akibat pendudukan Jepang di Nusantara mulai tahun 1942. Selepas masa Revolusi Nasional Indonesia mereda, ia kembali aktif di industri layar lebar dengan mendirikan perusahaan baru bernama Bintang Soerabaja bersama sahabat lamanya, Fred Young.
Perusahaan film tersebut bertahan dan beroperasi cukup lama sebelum akhirnya resmi ditutup pada tahun 1962. Setelah menutup lembaran kariernya di dunia sinema, ia memilih mengabdikan diri sebagai seorang pengajar bahasa Inggris dan sempat mengubah namanya menjadi Tahjar Ederis pada tahun 1967.
Menjelang akhir hayatnya, ia sempat menerima penghargaan dari Gubernur Jakarta sebagai bentuk apresiasi atas jasanya di dunia perfilman. Tokoh penting perfilman nasional ini wafat di Jakarta pada tanggal 25 Februari 1977 setelah mewariskan setidaknya 34 karya film semasa hidupnya.