Kabayan News Kabayan News
/home / ekonomi / Sejarah Pengangguran dan Kemiskinan...
EKONOMI

Sejarah Pengangguran dan Kemiskinan Antarperang di Britania Raya

By Asep Firdaus 3 min read 31 Agustus 2026
Sejarah pengangguran dan kemiskinan di Britania Raya pada masa antarperang menjadi tantangan sosial ekonomi terbesar

Sejarah pengangguran dan kemiskinan di Britania Raya pada masa antarperang menjadi tantangan sosial ekonomi terbesar

Pengangguran menjadi isu sosial dan ekonomi yang paling mendominasi di masyarakat Britania Raya selama tahun-tahun antarperang. Angka pengangguran pada masa tersebut jarang sekali turun di bawah angka satu juta jiwa dan bahkan mencapai puncaknya hingga lebih dari tiga juta orang pada tahun 1933. Situasi pelik ini merepresentasikan lebih dari dua puluh persen dari total populasi pekerja aktif di negara tersebut.

Krisis kemerosotan industri pasca Perang Dunia Pertama berakar dari lonjakan permintaan sesaat yang diikuti oleh kelebihan pasokan serta kelemahan struktural ekonomi. Ketergantungan berlebihan pada industri tradisional, kurangnya pengembangan teknologi pra-perang, dan hilangnya pasar luar negeri memperparah kondisi ekonomi domestik. Kejatuhan pasar saham Wall Street pada tahun 1929 kemudian memicu kemerosotan perdagangan global yang berujung pada Depresi Besar.

Kendati diwarnai oleh kantong-kantong pengangguran yang parah di berbagai wilayah seperti Wales Selatan dan Liverpool, sebagian besar wilayah Britania Raya sebenarnya tetap mencatatkan kemakmuran umum. Penurunan harga secara tajam serta kenaikan pendapatan rata-rata memicu ledakan konsumsi di kalangan kelas menengah. Rumah-rumah baru dibangun secara massal, sementara kepemilikan barang-barang konsumen modern mengalami peningkatan yang pesat.

Pemerintah merespons krisis tersebut melalui berbagai instrumen legislatif, termasuk perluasan skema asuransi pengangguran dan reformasi pemerintah daerah. Pembentukan Dewan Bantuan Pengangguran serta pengesahan undang-undang khusus ditujukan untuk menyuntikkan dana ke wilayah-wilayah yang mengalami depresi berat. Berbagai gejolak sosial seperti aksi mogok umum turut mewarnai perjalanan sejarah ekonomi yang penuh tantangan ini.

Penyebab dan Latar Belakang Krisis Ekonomi

Berakhirnya Perang Dunia Pertama awalnya memicu ledakan ekonomi jangka pendek di mana sektor perkapalan dan industri bisnis mengalami ekspansi yang sangat pesat. Namun, lonjakan permintaan tersebut tidak berumur panjang dan segera berubah menjadi kelesuan akibat overproduksi yang tak terkendali. Lemahnya struktur ekonomi tradisional membuat Britania Raya kesulitan menghadapi kompetisi ketat dari luar negeri.

Pemerintah mendanai Perang Besar sebagian besar melalui sistem utang yang mengakibatkan tingginya beban utang nasional. Upaya pemerintah untuk kembali memberlakukan standar emas menuntut pemotongan anggaran belanja publik yang ketat di tengah naiknya angka pengangguran. Angka pengangguran terus merangkak naik hingga mencapai jutaan jiwa saat koalisi politik mengalami pergantian kekuasaan.

Kombinasi antara kurangnya investasi teknologi pra-perang dan persaingan ketat pascaperang merusak sektor industri utama di Britania Raya. Pasar luar negeri perlahan mulai hilang direbut oleh negara pesaing yang memiliki efisiensi produksi lebih baik. Beberapa pengamat ekonomi bahkan menilai bahwa sistem tunjangan pengangguran yang terlalu longgar turut membebani kestabilan fiskal negara.

Dampak dari kejatuhan pasar keuangan global pada tahun 1929 semakin memperparah kelesuan perdagangan internasional dan memperpanjang masa penderitaan ekonomi. Wilayah-wilayah industri tertentu mengalami pukulan telak yang membuat tingkat pengangguran melonjak secara drastis melampaui rata-rata nasional. Kondisi ini menuntut intervensi kebijakan yang lebih terarah dari pemerintah pusat untuk meredam krisis.

Respon Pemerintah dan Kebijakan Legislatif

Pemerintah Britania Raya membentuk komite khusus pengangguran pada tahun 1920 yang merekomendasikan skema pekerjaan umum guna menyerap tenaga kerja. Undang-Undang Asuransi Pengangguran diperluas untuk mencakup lebih banyak pekerja serta memperkenalkan uji kelayakan dalam pencairan dana bantuan. Reformasi sistem bantuan sosial terus disesuaikan untuk menggantikan sistem rumah kerja tradisional yang dinilai sudah tidak relevan.

Pembentukan Pemerintah Nasional pada tahun 1931 melahirkan serangkaian kebijakan ekonomi darurat, termasuk pelepasan mata uang pound sterling dari standar emas. Kebijakan proteksionis seperti subsidi negara dan kuota impor diterapkan guna melindungi industri domestik dari hantaman krisis global. Undang-Undang Wilayah Khusus tahun 1934 juga disahkan untuk menyuntikkan dana pembangunan ke daerah-daerah yang paling terpuruk.

Di tengah berbagai tekanan ekonomi, ketidakpuasan sosial kerap memicu gelombang aksi protes dan unjuk rasa buruh di berbagai kota besar. Peristiwa bersejarah seperti Pemogokan Umum tahun 1926 dan longmarch para pekerja dari Jarrow mencerminkan perlawanan terhadap kebijakan pengujian cara hidup yang dinilai memberatkan. Gerakan kaum pengangguran terus mendesak pemerintah agar memberikan jaminan kesejahteraan yang lebih adil.

Meskipun tantangan kemiskinan dan pengangguran mewarnai sebagian besar masa antarperang, landasan negara kesejahteraan modern mulai terbentuk secara perlahan melalui periode sulit ini. Kebijakan-kebijakan intervensi negara dan reformasi institusional yang dirintis pada era tersebut pada akhirnya membentuk fondasi bagi pemulihan ekonomi jangka panjang di masa depan.

Topics
sejarah ekonomi britania raya pengangguran krisis
Jurnalis Ekonomi & Bisnis

Asep Firdaus adalah jurnalis yang mengkhususkan diri dalam bidang ekonomi dan bisnis. Ia memiliki pemahaman yang baik tentang dinamika pasar, kebijakan ekonomi, dan perkembangan industri, serta mampu menyajikannya dengan bahasa yang jelas dan mudah dicerna.