Penggunaan pendingin ruangan atau AC berhasil menyelamatkan hampir 58.000 nyawa di Amerika Serikat dalam kurun waktu satu dekade antara 2010 hingga 2020.
Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature Health, AC memainkan peran krusial dalam melindungi warga dari gelombang panas ekstrem yang melanda berbagai wilayah.
Kendati demikian, para ilmuwan memperingatkan bahwa lonjakan penggunaan pendingin ruangan ini mendatangkan dilema besar karena mempercepat laju pemanasan global.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagian besar pasokan listrik untuk pendingin ruangan masih bergantung pada bahan bakar fosil yang menyumbang emisi gas rumah kaca dalam jumlah masif ke atmosfer.
Lonjakan Konsumsi Energi dan Upaya Pendinginan Cerdas
Profesor epidemiologi Yale School of Public Health, Kai Chen, menyatakan bahwa AC sangat efektif menyelamatkan nyawa tetapi penggunaannya secara berlebihan menjadi bumerang bagi iklim bumi.
Permintaan listrik global untuk pendingin ruangan diproyeksikan melonjak hingga tiga kali lipat seiring dengan tren kenaikan suhu rata-rata permukaan bumi.
Badan Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan emisi gas buang dari sektor pendinginan dapat meningkat dari 4,5 miliar menjadi 7,2 miliar ton dalam 25 tahun ke depan.
Sejumlah negara kini mulai memberlakukan pembatasan suhu AC di kantor-kantor publik untuk menekan konsumsi energi di tengah krisis pasokan global.
Para ahli dari berbagai negara mendorong penerapan strategi pendinginan yang lebih cerdas dan merata melalui pemanfaatan ruang hijau perkotaan serta efisiensi bangunan.
Langkah-langkah adaptasi perkotaan seperti penambahan vegetasi terbukti mampu memangkas biaya energi secara signifikan sekaligus menurunkan suhu lingkungan tanpa bergantung sepenuhnya pada AC.