Bahaya tersembunyi dari kebiasaan menenggak minuman beralkohol kembali diungkap oleh dunia medis internasional. Sebagaimana diwartakan dalam jurnal The Lancet Regional Health, konsumsi alkohol terbukti memicu lonjakan angka kematian akibat berbagai jenis kanker dalam tiga dekade terakhir.
Berdasarkan laporan media, salah satu penulis studi tersebut yakni Dr. Chinmay Jani menyampaikan bahwa persentase kematian akibat kanker yang dipicu oleh alkohol mengalami peningkatan drastis hingga dua kali lipat dalam kurun waktu 33 tahun terakhir pada kelompok usia 20 tahun ke atas.
"Meskipun secara umum tingkat kematian akibat kanker menurun, persentase kematian yang berkaitan dengan alkohol justru berlipat ganda," ujar Dr. Chinmay Jani sebagaimana dikutip dari laporan CNN Brasil.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePenelitian mendalam ini menyoroti bahwa ancaman tersebut tidak hanya berlaku bagi peminum berat. Mengonsumsi sekitar satu dosis standar minuman beralkohol setiap harinya ternyata sudah cukup untuk mendongkrak risiko kemunculan sel kanker dalam tubuh.
Di Amerika Serikat sendiri, batasan satu dosis standar merujuk pada sekitar 355 mililiter bir, 148 mililiter anggur, atau 44 mililiter minuman beralkohol dengan kadar 40 persen. Temuan ini mematahkan anggapan lama bahwa konsumsi alkohol dalam takaran kecil masih tergolong aman bagi tubuh.
Sementara itu, Dr. Andrew Freeman selaku pakar pencegahan dan kesejahteraan kardiovaskular menegaskan bahwa sains modern kini membuktikan ketiadaan batas aman dalam mengonsumsi zat tersebut. Setiap tetes alkohol membawa potensi risiko kesehatan yang perlu disadari secara luas oleh masyarakat.
Dari sudut pandang biologis, etanol yang terkandung di dalam minuman beralkohol diubah oleh organ hati menjadi asetaldehida, yakni zat yang diklasifikasikan sebagai karsinogen bagi manusia. Senyawa beracun ini mampu merusak DNA sel dan memicu stres oksidatif yang berujung pada inflamasi kronis.
Bagi kaum perempuan, risiko terbesar berkaitan dengan peningkatannya hormon estrogen yang memicu kanker payudara. Sedangkan pada kelompok usia muda hingga paruh baya, kanker kolorektal dan kanker hati tercatat mendominasi kasus kematian yang berkaitan erat dengan kebiasaan buruk ini.
Kendati demikian, para peneliti menyarankan agar masyarakat mulai menekan kebiasaan minum serendah mungkin demi menjaga kebugaran jangka panjang. Mengurangi asupan alkohol secara drastis dinilai sebagai langkah preventif paling efektif untuk menghindari ancaman tumor ganas.