Al Jolson lahir dengan nama Asa Yoelson di sebuah desa bernama Srednike dekat Kaunas di Lithuania pada 26 Mei 1886, yang saat itu menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia. Ia merupakan anak kelima dari pasangan Nechama dan Moses Rubin Yoelson, seorang rabi dan penyanyi kantorkuil.
Pada tahun 1891, sang ayah memutuskan pindah ke New York City demi mencari kehidupan lebih baik bagi keluarganya. Tiga tahun berselang, mereka akhirnya berkumpul kembali di Washington, D.C., setelah sang ayah berhasil mengumpulkan biaya perjalanan bagi istri dan anak-anaknya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKehilangan sang ibu pada usia dini membuat Jolson sempat melalui masa-masa berat dan menghabiskan waktu di sebuah asrama yatim piatu di Baltimore. Ketertarikannya pada dunia hiburan mulai tumbuh setelah ia berkenalan dengan dunia sirkus dan hiburan jalanan bersama saudaranya.
Perjalanan kariernya di dunia panggung mulai menanjak ketika ia bergabung dengan berbagai pertunjukan sirkus dan vaudeville bersama saudaranya, Harry. Penampilannya dengan gaya khas menggunakan riasan wajah hitam atau blackface berhasil menarik perhatian penonton luas dan mendongkrak popularitasnya.
Puncak Kejayaan dan Warisan di Dunia Hiburan
Nama Al Jolson semakin meroket setelah ia membintangi berbagai pementasan musikal sukses di Broadway seperti La Belle Paree dan Vera Violetta. Ia dikenal luas melalui pendekatan panggung yang emosional, melodramatis, serta ucapan khasnya yang melekat di hati para penonton.
Puncak popularitas Al Jolson semakin tak terbendung ketika ia membintangi film bersuara pertama di dunia berjudul The Jazz Singer pada tahun 1927. Keberhasilan film tersebut menandai tonggak sejarah baru dalam industri perfilman modern sekaligus memperkokoh posisinya sebagai ikon hiburan global.
Selain sukses di dunia seni peran dan musik, ia juga mencatatkan sejarah sebagai pesohor pertama yang menghibur pasukan militer Amerika Serikat di luar negeri semasa Perang Dunia II. Dedikasi tersebut dilanjutkannya pada masa Perang Korea hingga membuatnya menerima penghargaan anumerta Medal for Merit dari Menteri Pertahanan George Marshall.
Kendati mencetak banyak prestasi gemilang dan dijuluki sebagai penghibur terhebat di dunia, warisan seni Al Jolson juga menyimpan kontroversi tersendiri terkait penggunaan riasan blackface. Sejarawan seni menilai gaya tersebut merefleksikan kompleksitas sejarah budaya populer Amerika pada masa lampau.