Sebagaimana diberitakan oleh media, eksistensi deretan toko buku bekas di Pasar Kanjengan, Kota Semarang, mendadak menuai sorotan publik dan ramai dikunjungi setelah kisah serta ulasannya viral di berbagai platform media sosial.
Komari selaku pemilik Toko Buku Bonafid menuturkan bahwa kekuatan algoritma dan unggahan para kreator digital, khususnya di aplikasi TikTok, memberikan dampak yang sangat signifikan terhadap jumlah kunjungan pembeli secara langsung ke lapak dagangannya.
Dalam keterangannya, Komari menyampaikan "Kalau diunggah ke TikTok langsung ramai yang datang", seraya mengakui bahwa lonjakan animo masyarakat tersebut menjadi angin segar bagi para pedagang buku lawas di kawasan pasar tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKendati demikian, para pedagang harus menghadapi tantangan berupa lokasi kios yang dinilai kurang strategis karena berada di lantai dua dan hanya menyisakan segelintir toko yang aktif beroperasi menjual buku bacaan maupun literatur keagamaan.
Untuk mengatasi keterbatasan akses kunjungan fisik tersebut, Komari secara kreatif memanfaatkan platform e-commerce guna memperluas jangkauan pasar dan mendongkrak omzet penjualan harian para pelaku usaha lokal.
Menurut keterangannya lebih lanjut, "Pemasukan lebih banyak dari penjualan online", yang membuktikan bahwa adaptasi terhadap teknologi digital menjadi kunci utama kelangsungan bisnis buku bekas di era modern saat ini.
Adapun ragam literatur yang paling diburu oleh para kolektor maupun mahasiswa meliputi buku-buku referensi ilmu pengetahuan tingkat perguruan tinggi, sementara novel-novel klasik justru menempati urutan terbawah dalam tingkat peminatan pembeli.
Mengutip laporan yang sama, variasi harga yang ditawarkan di kios tersebut tergolong sangat ramah di kantong, yakni dibanderol mulai dari harga sepuluh ribu rupiah hingga seratus rupiah tergantung pada kondisi fisik serta jenis buku.