Vanity Fair merupakan majalah bulanan terkemuka di Amerika Serikat yang secara konsisten mengangkat isu budaya populer, mode, dan urusan terkini di bawah naungan penerbit Condé Nast.
Perjalanan panjang majalah ini bermula pada tahun 1913 ketika Condé Montrose Nast membeli majalah mode pria Dress, lalu mengubah namanya menjadi Dress and Vanity Fair sebelum akhirnya dikenal sebagai Vanity Fair.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun sempat meraih puncak kejayaan pada era 1920-an dengan sirkulasi mencapai 90.000 eksemplar, majalah ini harus gulung tikar pada tahun 1936 akibat hantaman Depresi Besar dan penurunan pendapatan iklan.
Setelah puluhan tahun melebur bersama Vogue, Condé Nast akhirnya memutuskan untuk membangkitkan kembali majalah Vanity Fair pada tahun 1983 dan terus berkembang hingga menerbitkan berbagai edisi internasional di berbagai negara.
Deretan Kontroversi dan Pesta Oscar Bergengsi
Selain menyajikan laporan investigasi mendalam dan wawancara selebritas eksklusif, Vanity Fair juga kerap menjadi sorotan publik lewat berbagai kontroversi pemotretan sampul majalah yang ikonik.
"Saya mengambil bagian dalam sesi pemotretan yang seharusnya bersifat artistik dan sekarang saya merasa sangat malu," ucap aktris Miley Cyrus dalam pernyataan maafnya usai pemotretan kontroversial pada tahun 2008.
Di luar pemberitaan media, majalah ini juga sangat identik dengan kemeriahan pesta tahunan Vanity Fair Oscar Party yang pertama kali digelar pada tahun 1994 sebagai ajang eksklusif bagi para insan perfilman dunia.
Melalui inovasi digital seperti peluncuran kanal YouTube hingga situs The Hive, Vanity Fair membuktikan kemampuannya untuk terus beradaptasi dengan cara pembaca mengonsumsi informasi di era modern.