Max Verstappen menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memiliki niat untuk hengkang ke tim rival termasuk McLaren sebelum memutuskan untuk meneken kontrak baru berdurasi panjang bersama Red Bull Racing hingga akhir musim 2030. Pembalap asal Belanda tersebut bahkan sempat melontarkan candaan bahwa dirinya justru lebih dekat dengan keputusan pensiun daripada harus memikirkan proses kepindahan ke garasi lain di tengah ketidakpastian regulasi teknis awal musim ini.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, spekulasi mengenai masa depan sang juara dunia sempat memanas setelah CEO McLaren Zak Brown dan manajer pembalap dikabarkan sempat melakukan pembicaraan di tengah performa dominan tim-tim rival. Kendati demikian, pihak manajemen McLaren melalui Mark Webber secara tegas menepis rumor tersebut sebagai informasi fiktif, sementara Verstappen sendiri merasa sangat nyaman dan tidak melihat alasan kuat untuk mencari kemenangan di tempat lain.
"Saya tidak pernah merasakan hasrat atau kebutuhan untuk pindah ke tim lain demi mencoba menang di tempat lain," ujar Verstappen sebagaimana dilaporkan oleh ESPN. Ia menambahkan bahwa hubungannya yang sangat erat dengan para kru di Milton Keynes menjadi fondasi utama mengapa Red Bull tetap menjadi satu-satunya pilihan rasional dalam kelanjutan karier balapnya di ajang Formula 1.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKritik tajam sempat dilayangkan oleh sang pembalap terhadap regulasi mesin hibrida baru pada awal musim 2026 yang dinilai mengurangi esensi balapan murni karena ketergantungan pada pengisian daya baterai. Namun, setelah melakukan diskusi intensif bersama pihak FIA dan manajemen F1 yang mulai membuka peluang evaluasi jangka panjang termasuk wacana penggunaan mesin V8 di masa depan, keyakinan Verstappen untuk bertahan akhirnya kembali pulih sepenuhnya.
Prinsipal Red Bull Racing Laurent Mekies menyambut baik keputusan krusial tersebut dengan menyebut loyalitas Verstappen sebagai bentuk kepercayaan luar biasa terhadap masa depan tim. Kehadiran sang pembalap andalan dinilai sebagai pilar paling sentral dalam membangun siklus kemenangan baru di tengah perombakan besar struktur internal tim pasca kepergian beberapa tokoh penting seperti Adrian Newey.
Komitmen jangka panjang ini sekaligus membuka peluang besar bagi pembalap berusia 28 tahun tersebut untuk menghabiskan seluruh karier profesionalnya di bawah naungan satu merek pabrikan yang sama. Dengan dimulainya seri penutup di sirkuit Zandvoort akhir pekan ini, fokus utama sang bintang kini sepenuhnya tertuju pada upaya mengembalikan Red Bull ke jalur kemenangan pada paruh kedua musim balap.