Disinformasi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence yang semakin canggih menjadi ancaman paling serius bagi kredibilitas Pemilu Umum Nigeria 2027. Peringatan tersebut disampaikan oleh Ketua Independent National Electoral Commission (INEC), Prof. Joash Amupitan, dalam konferensi tahunan Association of Communication Scholars & Professionals of Nigeria di Abuja.
Berdasarkan laporan, Prof. Amupitan yang diwakili oleh Komisioner Nasional Prof. Sani Adam menyatakan bahwa teknologi pemilu dan komunikasi elektoral harus diperlakukan sebagai satu disiplin ilmu yang terintegrasi. Penggunaan perangkat BVAS dan IReV dirancang untuk menutup celah kredibilitas lama dengan memberikan akses bagi masyarakat melihat hasil pemungutan suara secara transparan.
Pengalaman dari Pemilu 2023 menunjukkan bahwa kegagalan teknis dapat memicu keraguan publik, sehingga komisi saat ini sedang melakukan audit menyeluruh terhadap sistem teknologi pemilu. Dari analisis Kabayan News, langkah tersebut mencakup uji penetrasi, perencanaan pemulihan bencana, serta rencana uji coba pemilu presiden tiruan menjelang tahun 2027.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeTerkait konten sintetis dan manipulatif, Prof. Amupitan menyoroti kemudahan pembuatan video, audio, serta gambar palsu menggunakan AI generatif yang sulit dideteksi sebelum menyebar luas ke jutaan pengguna media sosial. Penargetan mikro algoritmik juga dinilai berbahaya karena mampu menyebarkan pesan konflik ke kelompok pemilih tanpa landasan fakta bersama.
Sebagai langkah persiapan menghadapi pemilu, INEC telah mengusulkan anggaran besar untuk pengadaan perangkat baru serta menjalin kerja sama dengan akademisi media dan pakar siber internasional. Komisi menegaskan komitmennya untuk melawan disinformasi melalui penyediaan informasi yang lebih cepat dan akurat demi menjaga transparansi pemilu.