Jawa Timur tengah menghadapi ancaman krisis air bersih yang cukup serius menyusul puncak musim kemarau panjang. Berdasarkan laporan media, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jatim mencatat ada sebanyak 29 kabupaten dan kota yang dinilai terancam mengalami kekeringan ekstrem tahun ini.
Berdasarkan penjelasan Kalaksa BPBD Jatim, Gatot Soebroto, dari total daerah yang terancam tersebut, saat ini sudah ada 24 daerah yang menetapkan status darurat kekeringan. Mengutip pernyataan Gatot, "Dari 24 daerah tersebut, ada 6 daerah yang sudah mengeluarkan status tanggap darurat dan 19 daerah sudah melaksanakan dropping air bersih".
Pihaknya mengungkapkan bahwa bulan Agustus hingga September ini merupakan fase puncak musim kemarau. Pemerintah provinsi juga terus memantau potensi perluasan wilayah terdampak hingga bulan Oktober atau November mendatang untuk berkoordinasi secara intensif dengan pemerintah kabupaten dan kota.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSebagaimana diwartakan, sebagian besar kegiatan distribusi atau dropping air bersih saat ini masih menggunakan anggaran mandiri dari masing-masing kabupaten. Apabila dana darurat di daerah tersebut mulai menipis atau habis, pihak BPBD kabupaten dapat segera mengajukan permohonan bantuan cadangan ke tingkat provinsi.
Menanggapi potensi lonjakan permintaan bantuan, BPBD Jatim menyatakan telah menyiagakan berbagai logistik penunjang secara maksimal. Pemerintah provinsi menyiapkan kuota dropping air bersih hingga sekitar 5.410 rit, 50 unit tandon air, 100 unit tandon lipat, serta 9.600 lembar terpal.
Seluruh fasilitas penampungan tersebut sengaja disiapkan agar dapat dimanfaatkan langsung oleh pemerintah kabupaten dan kota guna menyimpan cadangan air bersih. Langkah ini dinilai sangat penting untuk menjangkau masyarakat di wilayah-wilayah terpencil yang paling kesulitan mendapatkan pasokan air.
Berdasarkan pemetaan lapangan, sejumlah wilayah di Jawa Timur dilaporkan mengalami dampak kekeringan yang paling parah dibandingkan daerah lainnya. Wilayah-wilayah tersebut meliputi Kabupaten Bojonegoro, Lamongan, Bangkalan, serta Sumenep, di mana ribuan warga sangat bergantung pada pasokan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari.