Isu seputar perubahan kehidupan intim wanita saat memasuki usia paruh baya sering kali diselimuti oleh berbagai mitos keliru. Berdasarkan laporan media, perbincangan mengenai pengaruh menopausia terhadap orgasmo kembali mencuat bertepatan dengan peringatan Hari Kesehatan Seksual yang jatuh pada 4 September.
Sebagaimana dijelaskan oleh terapis pasangan dan psikolog Nayara Malnero, penurunan kadar estrogen kerap memicu kekeringan vagina, penurunan elastisitas jaringan, serta hambatan pada otot dasar panggul. Kondisi fisik tersebut berpotensi membuat proses mencapai klimaks terasa lebih sulit atau kurang intens dibanding sebelumnya.
Kendati demikian, faktor psikologis dan pola pikir memegang peran yang tidak kalah krusial. Menurut Malnero, keyakinan keliru bahwa kehidupan intim langsung berakhir setelah menopausia justru bisa menjadi sugesti negatif yang benar-benar merusak kualitas kepuasan seksual.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDi sisi lain, ginekolog Miriam Al Adib memandang persoalan ini dari sudut pandang biopsikosocial yang lebih luas. Kelelahan fisik akibat gangguan tidur, rasa sakit akibat sindrom genitourinari, hingga stres emosional dapat menekan gairah wanita sebelum mereka sempat mencapai puncak kenikmatan.
Walau demikian, Al Adib menegaskan bahwa kekeringan vagina tidak serta-merta melumpuhkan kemampuan wanita dalam merasakan rangsangan eksternal pada area klitoris. Eksplorasi bentuk keintiman baru di luar hubungan penetrasi konvensional dapat menjadi alternatif solusi yang efektif.
Solusi komprehensif seperti perawatan dasar panggul, penggunaan pelembap khusus, hingga konseling terapi seksual sangat dianjurkan untuk mendobrak batasan mental. Pendekatan edukatif bagi pasangan juga dinilai penting agar dinamika keintiman tetap harmonis dan menyenangkan.