Kadar testosteron terlalu rendah atau tinggi berisiko memengaruhi irama listrik jantung dan memicu atrial fibrillation. Berdasarkan tinjauan terbaru yang diterbitkan dalam Journal of the Endocrine Society, para peneliti menemukan bahwa ketidakseimbangan hormon tersebut berhubungan dengan potensi gangguan irama jantung pada pria.
Penelitian ini menganalisis berbagai data dari uji klinis acak terkontrol, studi observasional skala besar, hingga penelusuran database PubMed dan Embase hingga Mei 2026. Hasilnya menunjukkan bahwa risiko atrial fibrillation cenderung lebih tinggi pada individu dengan kadar testosteron di bawah batas normal maupun pada mereka yang memiliki kadar hormon sangat tinggi.
Sebelumnya, sejumlah studi masa lalu kerap mengaitkan kekurangan testosteron dengan peningkatan risiko atrial fibrillation, terutama pada pria lanjut usia di atas 80 tahun. Namun, temuan-temuan kontras dari riset yang lebih baru mengindikasikan bahwa kadar hormon testosteron yang berlebih akibat terapi penggantian hormon atau faktor lain turut membawa dampak serupa terhadap kesehatan kardiovaskular.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePara peneliti menjelaskan bahwa kadar testosteron total yang berada pada kisaran 350 hingga 550 ng/dL mungkin menjadi batas optimal untuk menekan risiko gangguan irama jantung. Meskipun demikian, angka acuan tersebut masih memerlukan validasi klinis lebih lanjut guna memastikan efektivitasnya dalam pencegahan atrial fibrillation secara menyeluruh.
Mekanisme Hubungan Hormon Testosteron dan Irama Jantung
Studi elektrofisiologi seluler menunjukkan adanya hubungan berbentuk huruf U antara konsentrasi testosteron dan risiko atrial fibrillation. Perbedaan kadar hormon terbukti memicu respons biologis yang bervariasi pada jaringan otot jantung.
Pada kadar testosteron yang rendah, gangguan umumnya terjadi pada mekanisme penanganan kalsium di dalam sel jantung. Sebaliknya, konsentrasi testosteron yang terlalu tinggi dapat memengaruhi arus kalium, memperpendek durasi potensial aksi, serta memicu sirkulasi listrik abnormal yang mempertahankan aritmia.
Uji klinis TRAVERSE pada 2023 mencatat bahwa kejadian atrial fibrillation lebih sering ditemukan pada pria yang menerima gel testosteron transdermal 1,62 persen dibandingkan kelompok plasebo. Kendati demikian, sejumlah analisis lain seperti meta-analisis 2024 menemukan variasi hasil yang tidak menunjukkan peningkatan risiko signifikan secara statistik pada seluruh populasi.
Penelitian lanjutan sangat diperlukan untuk membandingkan berbagai jenis formulasi terapi testosteron dalam jangka panjang guna meminimalkan efek samping kardiovaskular. Pemantauan ketat terhadap kadar hormon bebas serta parameter kesehatan lainnya menjadi kunci penting dalam menentukan keselamatan pasien.