Berdasarkan laporan media UOL, para pelaku kejahatan siber kini mulai memanfaatkan aplikasi kencan daring sebagai celah baru untuk mengincar dan merampok data biometrik pengguna. Modus ini biasanya dimulai dengan membangun hubungan palsu sebelum akhirnya memaksa korban keluar dari platform aman menuju aplikasi perpesanan lain.
Mengutip laporan UOL, Juliana Cunha selaku direktur dari SaferNet Brasil mengungkapkan bahwa perpindahan obrolan keluar dari aplikasi resmi merupakan tahapan krusial dalam melancarkan aksi penipuan. Pelaku umumnya akan mendesak korban untuk melakukan panggilan video secara mendadak dengan dalih pendekatan yang lebih intens.
Sebagaimana diberitakan oleh UOL, rekaman video call tersebut dimanfaatkan oleh pelaku untuk menangkap berbagai sudut wajah, ekspresi, gerakan, hingga rekaman suara korban. Data visual dan audio ini kemudian dikumpulkan untuk dianalisis guna membobol sistem verifikasi keamanan berbasis biometrik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeLebih lanjut, berdasarkan laporan UOL, Profesor Fakultas Hukum USP Juliano Maranhão menjelaskan bahwa meskipun rekaman video tidak serta-merta bisa langsung membobol rekening bank, risiko kejahatan meningkat drastis apabila data wajah dan suara tersebut digabungkan dengan dokumen pribadi korban seperti CPF atau nomor telepon.
Sebagaimana dilansir dari UOL, para ahli mengimbau masyarakat agar selalu waspada terhadap gelagat mencurigakan seperti ajakan migrasi platform yang terlalu cepat atau instruksi tidak wajar saat video call. Jika terlanjur menjadi korban, masyarakat disarankan segera mendokumentasikan bukti, mengganti kata sandi, serta melaporkannya kepada pihak berwajib.