Kabayan News Kabayan News
/home / teknologi / Profil Gereja Ayam Bukit Rhema...
TEKNOLOGI

Profil Gereja Ayam Bukit Rhema Destinasi Wisata Unik di Magelang

By Septy Nusaira Gehntari 3 min read 30 Agustus 2026
Keindahan arsitektur bangunan Gereja Ayam atau Bukit Rhema di kawasan perbukitan Magelang

Keindahan arsitektur bangunan Gereja Ayam atau Bukit Rhema di kawasan perbukitan Magelang

Gereja Ayam adalah sebuah bangunan tempat doa umat Kristen yang terletak di Desa Karangrejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Provinsi Jawa Tengah. Bangunan ini populer disebut Gereja Ayam karena bentuk kepalanya menyerupai ayam, meskipun perancangnya menegaskan bahwa bentuk aslinya adalah burung merpati. Tempat ini berdiri di kawasan Bukit Rhema dan tidak jauh dari situs bersejarah Candi Borobudur.

Gagasan pendirian bangunan ini bermula pada akhir tahun 1980-an ketika sang perancang, Daniel Alamsyah, mendapatkan pengalaman rohani di kawasan perbukitan tersebut. Ia kemudian merancang sebuah tempat doa yang terbuka untuk segala bangsa tanpa membedakan latar belakang suku maupun agama. Pembangunan fisik mulai dikerjakan pada awal tahun 1990-an dengan bentuk arsitektur yang sangat ikonik.

Dalam perjalanannya, proses pembangunan sempat mengalami kendala finansial hingga terhenti pada akhir dekade 1990-an. Kendati demikian, kawasan tersebut kemudian dibuka kembali untuk umum dan bertransformasi menjadi objek kunjungan alternatif yang menarik. Popularitas tempat ini semakin melonjak setelah menjadi salah satu lokasi penting dalam film nasional Ada Apa dengan Cinta? 2 pada tahun 2016.

Kondisi terkini Gereja Ayam dan kawasan Bukit Rhema telah berkembang menjadi pusat kegiatan pariwisata yang memadukan unsur rohani, edukasi, dan ekonomi lokal. Pengunjung dari berbagai daerah datang untuk menikmati panorama alam dari ketinggian serta mendalami sejarah pembangunannya. Keberadaan fasilitas pendukung seperti kedai lokal dan pusat UMKM turut memberikan dampak positif bagi masyarakat sekitar.

Sejarah Pendirian dan Perkembangan Awal

Ide awal pembangunan Gereja Ayam berakar dari pengalaman pribadi Daniel Alamsyah, seorang pengusaha asal Jakarta yang berkunjung ke Bukit Rhema pada tahun 1988. Dalam kunjungannya tersebut, ia merasakan panggilan doa dan menerima wahyu untuk mendirikan sebuah tempat ibadah yang universal. Visi utamanya adalah menciptakan tempat perlindungan rohani yang dapat menampung siapa saja dari berbagai latar belakang.

Proses konstruksi dimulai sekitar tahun 1991 dengan melibatkan rancangan bentuk burung merpati bermahkota yang sarat akan makna simbolis perdamaian. Namun, struktur fisik bagian kepala yang menjulang tinggi membuat masyarakat sekitar lebih akrab menyebutnya sebagai bangunan berbentuk ayam. Penamaan lokal ini akhirnya melekat erat dan menjadi identitas populer di tengah masyarakat luas.

Kendala pendanaan menyebabkan proyek pembangunan tidak dapat diselesaikan sepenuhnya, sehingga sempat ditinggalkan dan terbengkalai sejak sekitar tahun 2000. Walaupun demikian, bentuk bangunan yang unik dan berdiri megah di atas bukit tetap menarik rasa penasaran banyak pelancong. Kompleks bangunan ini akhirnya mendapatkan perhatian khusus untuk dipugar dan dikelola kembali sebagai destinasi publik.

Prinsip dasar yang melandasi pendirian bangunan ini adalah semangat kebersamaan dan keterbukaan bagi umat dari berbagai belahan dunia. Nilai-nilai perdamaian dan kerukunan antarsesama manusia menjadi fondasi utama yang dipegang teguh dalam pengembangan kawasan wisata rohani ini. Semangat tersebut terus dijaga dalam setiap aktivitas yang diselenggarakan di area Bukit Rhema hingga saat ini.

Kontribusi dan Dampak

Kontribusi utama Gereja Ayam terletak pada penyediaan fasilitas ruang doa dan tempat retret lintas denominasi bagi masyarakat luas. Bagian tubuh bangunan dirancang secara fungsional sebagai aula besar untuk kegiatan rohani, sementara bagian mahkota menawarkan ruang refleksi dengan pemandangan alam 360 derajat. Fungsi ganda ini memperkaya pilihan destinasi wisata spiritual di kawasan Jawa Tengah.

Pengaruh keberadaan objek wisata ini sangat dirasakan dalam memajukan sektor pariwisata lokal di sekitar kawasan Borobudur dan Kabupaten Magelang. Lonjakan jumlah wisatawan, baik domestik maupun mancanegara, memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi industri perhotelan dan pariwisata regional. Citra kawasan ini semakin terangkat berkat eksposur media massa dan perfilman nasional.

Berbagai penghargaan informal dan pengakuan publik diperoleh seiring dengan suksesnya transformasi bangunan mangkrak menjadi ikon wisata yang inspiratif. Pengunjung tidak hanya datang untuk berwisata foto, tetapi juga mempelajari nilai sejarah serta simbolisme arsitektur bangunan tersebut. Integrasi antara wisata alam, budaya, dan religi menjadikan tempat ini memiliki daya tarik tersendiri.

Warisan dari pengembangan Gereja Ayam memberikan teladan positif bagi pengelolaan destinasi alternatif yang berbasis pemberdayaan masyarakat sekitar. Keterlibatan warga lokal melalui pengelolaan sentra UMKM, kedai kuliner khas, dan produk kriya memastikan manfaat ekonomi dapat dirasakan secara berkelanjutan. Hal ini menjamin bahwa generasi mendatang dapat terus menikmati nilai edukasi dan keindahan dari situs unik tersebut.

Topics
gereja ayam bukit rhema magelang pariwisata jawa tengah
Jurnalis & Analis

Septy Nusaira Gehntari adalah jurnalis yang memiliki ketajaman analisis dalam berbagai isu. Ia dikenal dengan pendekatan humanis dalam menulis dan kemampuannya menyajikan berita kompleks menjadi mudah dipahami oleh pembaca dari berbagai kalangan.