Pernahkah Anda mendengar istilah medis dislipidemia? Kondisi ini merujuk pada ketidakseimbangan kadar lemak dalam darah, yang biasanya ditandai dengan melonjaknya kolesterol jahat atau LDL secara drastis, sementara kolesterol baik atau HDL justru berada di level rendah. Mengutip laporan dari RRI.co.id, ketidakseimbangan ini merupakan salah satu faktor pemicu utama timbulnya penyakit jantung koroner serta stroke.
Berdasarkan informasi kesehatan, akar permasalahan ini umumnya terbagi menjadi dua kelompok besar, yakni faktor genetik atau primer dan faktor gaya hidup atau sekunder. Faktor genetik biasanya melibatkan riwayat keluarga, seperti kasus hiperkolesterolemia familial. Kendati demikian, sebagian besar kasus justru dipicu oleh kebiasaan sehari-hari yang sebenarnya bisa dikontrol.
Kebiasaan mengonsumsi makanan yang tinggi lemak jenuh serta lemak trans terbukti menjadi dalang utama di balik meroketnya kadar LDL dalam tubuh. Jenis lemak ini kerap ditemukan pada berbagai sajian gorengan, makanan olahan cepat saji, hingga masakan bersantan. Ditambah lagi, konsumsi karbohidrat olahan secara berlebihan dapat memicu organ hati memproduksi trigliserida lebih banyak sekaligus menekan produksi HDL.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeGaya hidup sedentari atau minim aktivitas fisik serta masalah obesitas juga memberikan kontribusi yang sangat signifikan. Kurangnya gerak membuat tubuh kehilangan efisiensi dalam membakar lemak dan mengelola profil lipid. Selain itu, kebiasaan merokok diketahui mampu memperburuk keadaan dengan cara merusak kolesterol baik dan mendongkrak kolesterol jahat.
Sebagaimana diberitakan oleh sumber terkait, perubahan gaya hidup merupakan kunci utama dalam mengatasi masalah ketidakseimbangan kolesterol ini. Masyarakat diimbau untuk mengganti asupan lemak jenuh dengan lemak sehat, memperbanyak aktivitas fisik, serta melakukan pemeriksaan rutin demi mencegah komplikasi penyakit berbahaya di kemudian hari.