Biografi Siswondo Parman merekam jejak Letnan Jenderal Anumerta Siswondo Parman sebagai salah satu pahlawan revolusi Indonesia sekaligus tokoh militer penting yang gugur dalam peristiwa Gerakan 30 September. Lahir di Wonosobo pada 4 Agustus 1918, ia merupakan anak keenam dari sebelas bersaudara yang menempuh pendidikan HIS, MULO, hingga lulus dari AMS-B Yogyakarta pada tahun 1940 sebelum sempat mendalami ilmu kedokteran.
Perjalanan karier militernya dimulai setelah kemerdekaan ketika ia bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat. Pada akhir Desember 1945, ia dipercaya menjabat kepala staf Polisi Militer di Yogyakarta dan empat tahun berselang diangkat sebagai kepala staf gubernur militer Jabodetabek dengan pangkat mayor.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeDalam kapasitas tersebut, ia sukses menggagalkan rencana kelompok pemberontak Angkatan Perang Ratu Adil pimpinan Raymond Westerling yang berniat membunuh menteri pertahanan dan komandan angkatan bersenjata. Ia juga turut serta dalam aksi gerilya selama Agresi Militer Belanda II berlangsung di bawah komando militer Jakarta.
Memasuki tahun 1951, ia dikirim mendalami pendidikan di Sekolah Polisi Militer Amerika Serikat dan memimpin Polisi Militer Jakarta sebelum bertugas sebagai atase militer di London. Kariernya semakin cemerlang ketika ia diangkat menjadi asisten pertama intelijen untuk Kepala Staf Angkatan Darat Letnan Jenderal Ahmad Yani.
Jejak Intelijen dan Peran Strategis Siswondo Parman
Kisah hidupnya berakhir tragis pada dini hari tanggal 1 Oktober 1965 ketika sekelompok orang berseragam Tjakrabirawa menjemputnya secara paksa di kediamannya di Jalan Syamsurizal. Ia dibawa ke basis gerakan di Lubang Buaya bersama para perwira tinggi lain sebelum akhirnya gugur sebagai pahlawan bangsa.
Jenazahnya ditemukan beberapa hari kemudian dan dimakamkan secara kenegaraan di Taman Makam Pahlawan Kalibata pada 5 Oktober 1965. Melalui Keputusan Presiden Nomor 111 KOTI 1965, pemerintah secara resmi menganugerahinya gelar sebagai Pahlawan Revolusi atas pengabdian serta jasanya.
Kepiawaian Siswondo Parman di bidang intelijen mulai ditempa sejak masa pendudukan Jepang ketika ia sempat bekerja untuk kepolisian militer Kempeitai sebagai penerjemah di Yogyakarta. Pengalaman tersebut membentuk ketajaman analisisnya dalam membaca situasi keamanan nasional yang sangat bergejolak pada awal kemerdekaan Republik Indonesia.
Sebagai perwira tinggi yang membidangi urusan intelijen di bawah kepemimpinan Ahmad Yani, ia memegang peranan krusial dalam mendeteksi berbagai ancaman keamanan dalam negeri. Posisi strategis ini menempatkannya pada garis depan pertahanan negara dari berbagai rongrongan kelompok radikal maupun pemberontakan.