Aktor Hollywood Brad Pitt membuat keputusan mengejutkan dengan kembali mengonsumsi alkohol dalam jumlah moderat setelah sempat menjalani sobrietas selama 7 tahun penuh. Melalui wawancara dengan majalah Esquire yang diterbitkan pada 10 Agustus 2026, ia mengaku sempat lepas kendali beberapa kali sebelum akhirnya memutuskan untuk bersikap lebih profesional dalam mengatur konsumsinya.
"Saya sempat sobrietas selama tujuh tahun, lalu saya kembali mengonsumsi alkohol," ujar Brad Pitt dalam wawancara eksklusif tersebut. Ia menambahkan bahwa dirinya kini tidak lagi menenggak alkohol dalam jumlah besar dan berusaha menjaga batas agar tetap terkontrol dalam setiap kesempatan.
Keputusan tersebut langsung menarik perhatian para ahli kesehatan mental dan spesialis adiksi di berbagai belahan dunia. Pasalnya, sejarah masa lalu sang aktor dengan alkohol sempat membawanya menjalani program 18 tahun di Anonim Alkoholik sebelum akhirnya menyatakan diri bersih dari zat tersebut pada tahun 2019.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMenanggapi keputusan kontroversial tersebut, spesialis adiksi asal Los Angeles Jessica Steinman memberikan peringatan keras terkait bahaya kembalinya seseorang ke dunia alkohol setelah lama berhenti. Menurutnya, tindakan mencoba kembali menguji batas dengan minum secara moderat merupakan langkah yang sangat berisiko bagi individu yang pernah mengalami masalah ketergantungan.
Risiko Besar Kembali Minum Menurut Pakar Adiksi
Jessica Steinman menjelaskan bahwa perubahan otak akibat adiksi alkohol tidak pernah benar-benar hilang sepenuhnya dari sistem saraf seseorang. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti beruang yang sedang hibernasi di mana paparan alkohol sekecil apa pun dapat membangunkan kembali respons dopamin yang memicu hilangnya kendali diri secara total.
"Sebagai profesional di bidang adiksi yang telah berpengalaman selama bertahun-tahun, saya sangat jarang melihat keberhasilan dalam metode kembali minum secara moderat," ungkap Steinman saat diwawancarai oleh media. Ia menegaskan bahwa orang-orang yang berhasil kembali minum tanpa masalah setelah berhenti total hanyalah anomali atau pengecualian langka dari aturan umum.
Berdasarkan data dari National Institute on Alcohol Abuse and Alcoholism (NIAAA), abstinensia atau berhenti total dari segala bentuk minuman keras tetap menjadi rekomendasi utama untuk mencapai keberhasilan pemulihan jangka panjang. Lembaga tersebut juga mencatat bahwa kecanduan alkohol mengubah sistem otak yang mengatur rasa senang, stres, dan pengambilan keputusan secara mendalam.
Steinman menyamakan pengelolaan adiksi ini dengan penyakit kronis seperti diabetes atau penyakit jantung yang memerlukan pemantauan ketat seumur hidup. Ia mengimbau siapa pun yang mulai menunjukkan tanda-tanda peningkatan konsumsi atau perilaku bermasalah dengan alkohol agar segera berkonsultasi dengan konselor adiksi profesional guna mencegah dampak buruk yang lebih luas.