Daftar 10 negara paling ramah bagi turis yang hanya menguasai bahasa Inggris kini menjadi sorotan para pelancong global yang ingin menikmati liburan tanpa kendala komunikasi. Berdasarkan data indeks kecakapan bahasa Inggris terbaru tahun 2025, sejumlah destinasi di berbagai belahan dunia mencatatkan tingkat kefasihan yang sangat tinggi meskipun bahasa Inggris bukanlah bahasa resmi utama mereka.
Belanda menempati posisi teratas dalam daftar global dengan skor kecakapan mencapai 624 poin dalam kategori sangat tinggi. Sistem pendidikan yang mengajarkan bahasa Inggris sejak dini serta minimnya penyulihsuaraan pada media televisi membuat warga lokal, mulai dari anak-anak hingga lansia, sangat terbiasa menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari.
Kroasia dan Denmark menyusul di jajaran papan atas dengan skor masing-masing yang menempatkan mereka di zona kecakapan sangat tinggi. Di kawasan pesisir Dalmatian, Kroasia, maupun ibu kota Denmark, Kopenhagen, sektor perhotelan dan transportasi umum telah menggunakan bahasa Inggris sebagai standar pelayanan utama bagi para pengunjung dari berbagai negara.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeNegara-negara Nordik lainnya seperti Swedia dan Norwegia juga mencatatkan tingkat kefasihan populasi mencapai kisaran 90 persen. Paparan konstan terhadap konten media berbahasa Inggris serta sistem pendidikan yang kuat menjadikan pelancong tidak perlu membawa kamus frasa saat menjelajahi sudut-sudut kota hingga wilayah terpencil.
Destinasi Resmi Berbahasa Inggris Hingga Wilayah Asia
Malta menawarkan kemudahan istimewa karena bahasa Inggris berstatus sebagai bahasa resmi kedua di bawah konstitusi negara kepulauan tersebut. Hampir 90 persen penduduk Malta menguasai bahasa Inggris dengan lancar, menjadikan rambu jalan, jadwal bus, hingga papan museum tersaji dalam bahasa Inggris secara default.
Singapura bahkan telah dikecualikan dari indeks kecakapan non-penutur asli sejak tahun 2025 setelah diklasifikasikan ulang sebagai negara berbahasa Inggris utama. Pusat jajanan kuliner, sistem angkutan cepat massal MRT, hingga pusat perbelanjaan di Singapura beroperasi sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris yang sangat mudah dipahami oleh turis.
Afrika Selatan dan Uni Emirat Arab juga membuktikan bahwa keragaman budaya tidak menghalangi kelancaran komunikasi bagi wisatawan asing. Afrika Selatan mencatat skor 602 poin di tingkat global, sementara Dubai dan Abu Dhabi mengandalkan tenaga kerja ekspatriat dengan tingkat penggunaan bahasa Inggris mencapai 85 persen di sektor pariwisata.
Filipina melengkapi daftar ini sebagai salah satu negara di Asia yang menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa resmi berkat warisan sejarah pendidikannya. Dari pusat kota Manila hingga kawasan resor Boracay, interaksi sehari-hari hingga pemesanan akomodasi dapat dilakukan dengan sangat nyaman menggunakan bahasa Inggris.