Doa Nabi Musa saat menghadapi orang sombong dan zalim dapat diamalkan oleh umat Islam ketika berhadapan dengan individu yang suka meremehkan atau memandang rendah orang lain. Dalam kehidupan sehari-hari, menghadapi sikap semena-mena tentu menjadi tantangan tersendiri untuk menjaga kestabilan emosi.
Berdasarkan Al-Qur'an Surat Ghafir ayat 27, Nabi Musa memanjatkan doa perlindungan ketika menghadapi ancaman dan kesombongan Firaun. Ayat tersebut merekam bagaimana Nabi Musa bersandar penuh kepada Allah SWT tanpa harus membalas keburukan dengan keburukan serupa.
Adapun bacaan doa Nabi Musa tersebut berbunyi innī ‘udztu birabbī wa rabbikum min kulli mutakabbirin lā yu’minu biyaumil-ḥisāb. Artinya adalah sesungguhnya aku berlindung kepada Tuhanku dan Tuhanmu dari setiap orang yang menyombongkan diri yang tidak beriman kepada hari perhitungan.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBahaya Sikap Sombong dan Penyakit Hati dalam Islam
Tafsir Tahlili Kemenag menjelaskan bahwa sikap Firaun dilatarbelakangi oleh ketidakpercayaan terhadap hari akhir sehingga ia berbuat sewenang-wenang. Oleh karena itu, memohon perlindungan kepada Sang Pencipta menjadi langkah tepat bagi setiap mukmin dalam menghadapi kezaliman.
Dalam ajaran Islam, kesombongan atau kibr bukan sekadar rasa lebih unggul daripada orang lain. Sifat tercela ini dikategorikan sebagai penyakit hati yang merusak hubungan baik dengan Allah SWT maupun sesama manusia.
Sifat sombong sangat dibenci dalam agama karena dapat menghalangi seseorang dari pintu surga serta mendatangkan murka Allah. Peringatan mengenai bahaya sifat ini telah ditegaskan melalui berbagai dalil sahih.
Untuk membentengi diri dari sifat sombong, seorang Muslim dianjurkan senantiasa bersikap tawadhu atau rendah hati. Kesadaran bahwa segala kelebihan di dunia berasal dari Allah membantu seseorang agar terhindar dari rasa ujub.
Membiasakan diri menerima nasihat dan menghargai orang lain menjadi kunci utama dalam meredam potensi kesombongan diri. Dengan demikian, kehidupan sosial dapat berjalan lebih harmonis dan penuh berkah.