Ilmuwan membuka kembali pencarian partikel hipotesis dark photon yang sebelumnya sempat dikesampingkan dalam studi terkait materi gelap di alam semesta. Berdasarkan riset terbaru dari fisikawan di Perimeter Institute dan University of Maryland, batas kosmologis konvensional mengenai keberadaan partikel tersebut dinilai terlalu ketat akibat kesalahan asumsi perhitungan masa lalu.
Mengutip laporan penelitian yang dipublikasikan dalam Physical Review Letters, para ahli menemukan bahwa perhitungan terdahulu menganggap transfer energi dari dark photon ke dalam plasma terjadi secara linier dan bertahap. Fisikawan Junwu Huang bersama rekan-rekannya, Anson Hook dan Mohamad Shalaby, lantas melakukan simulasi komputer untuk menguji realisme transfer energi besar-besaran tersebut.
Hasil simulasi komputer menunjukkan bahwa perilaku plasma di alam semesta awal ternyata menjadi sangat rumit dan nonlinier begitu energi masuk, sehingga proses konversi terhenti lebih awal. Kondisi tersebut membuktikan dark photon tidak memanaskan alam semesta purba secara berlebihan seperti perkiraan para peneliti sebelumnya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeImplikasi penemuan ini membuka kembali wilayah pencarian seluas sekitar 10 orde besaran massa partikel yang sebelumnya dianggap tertutup bagi para periset. Eksperimen masa depan kini dapat mengeksplorasi area baru guna menemukan sinyal materi gelap yang sempat diabaikan.
Temuan ini sekaligus mengindikasikan perlunya evaluasi ulang terhadap batas astrofisika partikel baru di lingkungan ekstrem seperti bintang neutron dan kata putih. Kolaborasi lintas bidang fisika partikel, kosmologi, dan fisika plasma terbukti mampu mengubah pemahaman lama tentang sejarah awal kosmos.