Estetika ultra feminin yang lekat dengan pita, renda, dan nuansa merah muda kini mendominasi tren busana remaja dan anak-anak melalui popularitas jenama asal Amerika Serikat, LoveShackFancy. Berawal dari butik mewah di kawasan elit seperti Hamptons hingga Newport Beach dengan banderol harga mencapai ribuan dolar, jenama tersebut kini memperluas jangkauannya melalui berbagai kolaborasi strategis.
"Melanie DiSalvo, seorang konsultan mode, mengatakan bahwa LoveShackFancy memiliki basis penggemar setia sejak meluncurkan koleksi kolaborasi bersama Target pada tahun 2020," ujar laporan industri mode terkait fenomena busana bernuansa romantis ini.
Melalui kerja sama dengan jenama ritel terjangkau seperti Target dan Pottery Barn, produk mulai dari pakaian anak hingga perlengkapan sekolah kini dapat diakses oleh kalangan remaja dengan anggaran terbatas. Strategi harga tersebut berhasil memikat generasi muda yang ingin mengekspresikan diri melalui gaya busana maksimalis.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePopularitas gaya tersebut juga mencerminkan pergeseran tren mode global yang sebelumnya didominasi oleh gaya minimalis seperti clean girl dan quiet luxury selama satu dekade terakhir. Para pengamat mode menilai bahwa siklus tren selalu berputar menuju gaya yang lebih ekspresif, berlayer, serta sarat akan detail artistik.
Daya Tarik Estetika Feminin di Kalangan Gen Z
Pakar mode menilai kebangkitan gaya busana serba merah muda ini tidak lepas dari dinamika budaya serta kerinduan masyarakat terhadap tren yang bernuansa nostalgia dan buatan tangan di tengah era digital. Sentuhan visual yang berlimpah dengan elemen bunga dan kerutan memberikan daya tarik tersendiri bagi kelompok usia muda.
"Maureen Lehto Brewster, asisten profesor merchandising busana di University of Maryland Eastern Shore, menjelaskan bahwa pergeseran dari minimalisme ke maksimalisme dipengaruhi oleh faktor budaya dan ekonomi," ungkap laporan terkait dinamika tren busana modern.
Selain aspek estetika, tren ini juga berjalan seiring dengan maraknya perbincangan mengenai budaya girlhood di berbagai platform media sosial digital. Banyak remaja perempuan memanfaatkan tren busana tersebut sebagai bentuk perayaan atas identitas feminin yang sebelumnya kerap dipandang sebelah mata.
Meskipun sebagian kalangan menilai tren hiper-feminin berkaitan dengan pergeseran nilai tradisional di tengah masyarakat, para pembeli umumnya memilih gaya tersebut murni karena alasan estetika dan ekspresi personal. Kegemaran mengenakan pakaian bernuansa merah muda dan renda kini menjadi simbol kebebasan berekspresi bagi generasi muda.