BMW mencatat angka pemulihan material mobil bekas sebesar 51 persen melalui proyek riset Car2Car di pabrik Leipzig. Perusahaan otomotif asal Jerman tersebut berhasil meningkatkan kualitas daur ulang baja dari angka 1 persen menjadi 81 persen.
"Proyek riset Car2Car membongkar 500 kendaraan akhir masa pakai dari berbagai model untuk menguji proses pemilahan material logam secara presisi," ujar perwakilan BMW dalam laporan data terbarunya.
Peningkatan signifikan ini dicapai berkat teknologi penyortiran berbasis sensor yang mampu memisahkan kontaminasi tembaga dari besi tua sebelum masuk tahap peleburan. Sebanyak lebih dari 100.000 komponen kendaraan kini telah menggunakan komponen baja daur ulang tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeski demikian, pencapaian tersebut berbanding terbalik dengan aturan baru Regulasi Kendaraan Akhir Masa Pakai Uni Eropa yang resmi berlaku pekan ini. Regulasi baru itu justru mengetatkan target wajib kandungan daur ulang pada material plastik alih-alih logam berat.
Tantangan Regulasi Uni Eropa dan Target Daur Ulang
Aturan baru dari Uni Eropa menetapkan batas minimum kandungan plastik daur ulang sebesar 15 persen mulai 2032 dan naik menjadi 25 persen pada 2036. Di sisi lain, aturan resmi mengenai target baja dan aluminium baru akan diusulkan Komisi Eropa pada 2033 mendatang.
Komisi Eropa memilih fokus pada material plastik karena dinilai lebih mudah diatur secara hukum, meskipun sektor baja memberikan kemajuan teknis yang jauh lebih pesat lewat inovasi BMW.
Kandungan tembaga pada kendaraan modern, terutama mobil listrik, tetap menjadi tantangan terbesar dalam proses peleburan baja sekunder agar tidak menurunkan kualitas struktur bodi mobil.
Keberhasilan uji coba BMW membuktikan bahwa industri otomotif memiliki kapasitas besar dalam mewujudkan sistem daur ulang tertutup secara mandiri sebelum regulasi pemerintah diberlakukan.