Sebagaimana diwartakan oleh La Vanguardia, pertempuran hukum panjang yang digalang oleh warga lokal akhirnya menemui titik terang setelah pengadilan tinggi menegaskan kewajiban pembongkaran timbunan limbah industri.
Pengadilan Tinggi Keadilan Catalunya atau TSJC secara resmi telah meratifikasi keputusan yang memerintahkan perusahaan tambang Iberpotash, yang kini beroperasi di bawah bendera ICL Iberia, untuk membongkar dan memulihkan kawasan terdampak.
Gunung buatan yang dikenal dengan nama El Cogulló di wilayah Sallent tersebut terbentuk dari tumpukan limbah garam sisa aktivitas pertambangan yang telah beroperasi selama beberapa dekade.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerdasarkan laporan media, gundukan limbah raksasa ini membentang hingga seluas 45 hektare dengan ketinggian mencapai 520 meter serta menampung sekitar 45 juta ton material garam yang merusak lanskap.
Keberadaan timbunan limbah masif ini sejak lama menjadi momok menakutkan bagi kelestarian lingkungan karena memicu risiko pencemaran serius pada sumber air dan ekosistem di sekitar daerah aliran sungai.
Upaya hukum ini berawal dari gugatan gigih yang dilayangkan oleh asosiasi warga lingkungan setempat pada tahun 2006 silam untuk menuntut penegakan hukum atas aktivitas pembuangan limbah yang dinilai melanggar aturan tata ruang.
Setelah melalui serangkaian proses peradilan tingkat banding hingga kasasi, upaya hukum lanjutan yang ditempuh pihak korporasi akhirnya kandas setelah ditolak oleh Mahkamah Agung.
Menanggapi putusan inkrah tersebut, pihak manajemen perusahaan menyatakan komitmennya untuk mematuhi resolusi hukum yang berlaku melalui pelaksanaan program restorasi lingkungan yang telah disetujui.
"Perusahaan akan mematuhi resolusi pengadilan melalui pelaksanaan program restorasi yang berlaku, disetujui oleh administrasi yang berwenang, dan memperhitungkan kondisi saat ini dari deposit garam Cogulló," demikian pernyataan pihak perusahaan sebagaimana dikutip dari laporan media.
Kendati demikian, perdebatan teknis mengenai metode pemulihan yang paling efektif masih terus bergulir di tengah masyarakat lantaran besarnya volume material yang harus ditangani demi mengembalikan kondisi alam seperti sedia kala.