King Charles III mendapat kecaman dari mantan kapelan Ratu Elizabeth, Gavin Ashenden, yang menyebut sang Raja telah mengabaikan tanggung jawabnya sebagai "Defender of the Faith". Kritik ini muncul setelah Sovereign Grant Annual Report edisi Juni 2026 mengganti istilah tersebut dengan frasa yang menyatakan Raja sebagai pelindung ruang bagi iman dalam bangsa multikeyakinan.
Pakar kerajaan Richard Fitzwilliams menilai perubahan redaksi tersebut telah menimbulkan kontroversi yang cukup signifikan di Inggris. Ia menyayangkan hilangnya istilah bersejarah tersebut dan menyebut frasa penggantinya sebagai pernyataan yang lemah serta terkesan mengikuti tren woke dalam bahasa Inggris modern.
Penulis biografi, Christopher Andersen, menjelaskan bahwa Charles memiliki kecenderungan ekumenis yang kuat sejak masa kuliahnya di Cambridge pada dekade 1970-an. Menurut Andersen, sang Raja selama ini memandang bahwa tidak ada satu agama yang memiliki semua jawaban, sehingga ia berupaya merangkul komunitas Muslim, Hindu, Buddha, hingga Yahudi dalam masa pemerintahannya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeBerbeda dengan mendiang Ratu Elizabeth yang tetap teguh pada keyakinan Kristen meski menghormati kepercayaan lain, Charles disebut sebagai sosok yang lebih terbuka. Pendekatan ini dinilai sebagai upaya untuk menciptakan kepemimpinan besar yang dapat menaungi seluruh elemen masyarakat di tengah keragaman keyakinan di Inggris saat ini.
Potensi Perubahan Peran Agama di Masa Depan
Kekhawatiran publik tidak hanya tertuju pada masa pemerintahan saat ini, melainkan juga terhadap suksesi masa depan di bawah Prince William dan Kate Middleton. Andersen mengungkapkan momen pada tahun 1995 ketika William kecil sempat kebingungan saat harus mengisi kolom agama di sekolah Eton, yang menunjukkan ketidakpastian generasi baru kerajaan mengenai tradisi tersebut.
Analisis menunjukkan bahwa setelah naik takhta kelak, William dan Kate kemungkinan besar akan memilih untuk menghapus peran Defender of the Faith secara menyeluruh. Hal ini dinilai sejalan dengan minat William yang tidak terlalu mendalami gereja, meskipun Kate sendiri dikenal memiliki keyakinan Kristen yang kembali menguat setelah diagnosis kanker yang dialaminya.
Pakar penyiaran Ian Pelham Turner menyebut Charles sebagai pemikir mendalam soal agama, namun ia mengakui adanya perbedaan pandangan dalam keluarga kerajaan. Debat ini memicu diskusi luas mengenai masa depan Church of England yang dinilai semakin melemah pengaruhnya di tengah masyarakat Inggris.
Richard Fitzwilliams menegaskan bahwa memperlemah Church of England bukanlah langkah strategis bagi keluarga kerajaan. Sebagai satu-satunya monarki di Eropa yang masih melangsungkan upacara penobatan, ia menekankan pentingnya menjaga institusi tersebut agar tetap kokoh di bawah perlindungan pihak kerajaan.