Film epik historis The Eagle yang dirilis pada tahun 2011 disutradarai oleh Kevin Macdonald dan diadaptasi dari novel petualangan sejarah karya Rosemary Sutcliff berjudul The Eagle of the Ninth. Film berdurasi 114 menit ini dibintangi oleh aktor Channing Tatum sebagai pemeran utama bersama Jamie Bell dan Donald Sutherland.
Cerita dalam film ini berlatar pada tahun 140 Masehi, yaitu 20 tahun setelah 5.000 tentara dari Legiun Kesembilan Romawi menghilang secara misterius di wilayah utara Inggris. Tokoh utama Marcus Flavius Aquila memutuskan pergi ke pos perbatasan di Inggris demi menebus kehormatan ayahnya yang hilang bersama lambang elang legiun.
Proses produksi film ini menghabiskan anggaran sebesar 25 juta dolar AS dan melakukan pengambilan gambar utama di Hongaria serta Skotlandia. Sutradara Kevin Macdonald sengaja memilih aktor Amerika untuk memerankan karakter Romawi guna menciptakan simbolisme kontemporer.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMeskipun mendapatkan ulasan yang beragam dari para kritikus film, karya sinematik produksi Toledo Productions dan Film4 ini berhasil meraup pendapatan global sebesar 39 juta dolar AS di seluruh dunia.
Perjalanan Berbahaya Marcus dan Budak Setia Esca
Marcus Flavius Aquila memulai perjalanan berbahaya menyeberangi Tembok Hadrian menuju wilayah suku barbar ditemani oleh seorang budak bernama Esca. Esca sendiri merupakan putra mendiang kepala suku Brigantes yang membenci bangsa Romawi namun terikat janji budi.
Di tengah perjalanan menyusuri hutan belantara utara, mereka menemukan fakta bahwa sebagian besar prajurit Legiun Kesembilan tewas dalam penyergapan. Lambang elang emas legiun tersebut ternyata dirampas oleh kelompok suku paling ditakuti yang dikenal sebagai Seal People.
Setelah melewati berbagai rintangan menegangkan dan pertempuran sengit melawan penduduk lokal, Marcus akhirnya berhasil merebut kembali lambang kebanggaan pasukan Romawi tersebut. Ia kemudian kembali ke benteng pertahanan bersama para penyintas untuk menyerahkan lambang itu kepada gubernur.
Pendekatan sinematik yang realistis serta minimnya penggunaan efek CGI dalam film ini mendapat apresiasi positif dari kritikus senior seperti Roger Ebert yang memuji energi klasik ala film laga bertema pedang dan perisai.