Lonjakan migran di Ceuta yang terjadi baru-baru ini mendorong Kepala Uni Eropa Ursula von der Leyen untuk mendesak adanya aksi bersatu dalam pengamanan perbatasan kawasan tersebut.
Berdasarkan laporan yang dihimpun, insiden besar di wilayah kantong Afrika Utara milik Spanyol itu telah memicu ketegangan politik yang cukup tajam di antara negara-negara anggota Uni Eropa.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMengutip isi surat yang dikirimkan kepada Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, Ursula von der Leyen menegaskan bahwa perlindungan seluruh perbatasan eksternal merupakan tanggung jawab bersama seluruh negara anggota.
"Dari insiden ini, sangat jelas bahwa kita harus berbuat lebih banyak untuk memperkuat perbatasan kita di titik-titik krusial," demikian bunyi surat dari petinggi Uni Eropa tersebut.
Dalam kesempatan yang sama, ia juga memberikan apresiasi kepada Pedro Sanchez atas penanganan krisis yang dinilai cepat ketika puluhan ribu orang sempat membanjiri wilayah Ceuta dari Maroko sebelum sebagian besar dari mereka meninggalkan lokasi.
Namun, situasi belum sepenuhnya mereda karena pemandangan belum pernah terjadi sebelumnya itu memicu reaksi keras dari Italia dan Denmark yang mengusulkan agar Spanyol diskors dari zona bebas visa Schengen.
Menanggapi usulan tersebut, pihak Madrid dengan tegas menolak gagasan yang dinilai egois tersebut, sembari menyerukan pertemuan darurat tingkat menteri dalam negeri guna mencari solusi bersama.
Dari analisis awak media, benturan kepentingan antarnegara anggota ini memperlihatkan rapuhnya konsensus internal Uni Eropa dalam menghadapi isu migrasi lintas batas yang kian kompleks.