Pemimpin enklaf Spanyol di Ceuta, Juan Jesus Vivas, secara terbuka menuding Maroko sengaja mendorong atau membiarkan gelombang besar penyeberangan imigran ilegal yang mengguncang wilayah perbatasan tersebut pekan lalu.
Krisis kemanusiaan ini bermula ketika puluhan ribu orang mendatangi wilayah teritorial kecil Spanyol di Afrika Utara itu, memicu kewalahan luar biasa bagi kota berpenduduk 84.000 jiwa tersebut.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePemerintah Spanyol mencatat sebagian besar pendatang berhasil dipulangkan ke Maroko, namun insiden ini telanjur memantik perdebatan sengit serta krisis politik di tingkat Uni Eropa.
Vivas menegaskan bahwa peristiwa tersebut bukan sekadar persoalan migrasi biasa, melainkan bentuk pelanggaran nyata terhadap integritas teritorial Spanyol yang melibatkan pembiaran pihak berwenang seberang perbatasan.
Dugaan hoax media sosial dan desakan solidaritas Uni Eropa
Hasil investigasi intelijen awal Spanyol menduga bahwa gelombang massa tersebut dipicu oleh penyebaran hoaks di media sosial mengenai aturan hukum baru bagi migran di daratan Spanyol.
Di tengah situasi yang tidak kondusif, aparat keamanan Maroko dilaporkan sempat melonggarkan pengawasan hingga akhirnya membuka akses bagi puluhan ribu orang untuk merangsek ke garis perbatasan.
Menanggapi situasi genting ini, Menteri Luar Negeri Spanyol menegaskan bahwa negaranya akan menuntut solidaritas penuh dari seluruh anggota Uni Eropa dalam menangani masalah migrasi.
Sementara itu, sejumlah pejabat tinggi Uni Eropa mulai mewaspadai potensi campur tangan pihak luar, termasuk dugaan eksploitasi disinformasi yang dimanfaatkan oleh jaringan pro-Rusia untuk memperkeruh keadaan.