Classical Hollywood cinema berkembang sebagai gaya naratif serta visual perfilman sejak dekade 1910-an hingga 1920-an pada masa akhir era film bisu. Gaya ini kemudian menjadi ciri khas sinema Amerika Serikat selama Golden Age of Hollywood mulai tahun 1927 hingga 1960-an sebelum kedatangan era New Hollywood.
Selama kurun waktu 40 tahun tersebut, gaya ini mendominasi industri perfilman dunia dengan sebutan lain seperti classical Hollywood narrative, Old Hollywood, dan classical continuity. Istilah era studio juga sering disematkan karena mencakup produksi film sebelum studio kehilangan kendali atas bioskop dan kontrak talenta pada tahun 1970-an.
Peralihan artistik di Amerika Serikat dipelopori oleh sutradara seperti D. W. Griffith yang membebaskan diri dari monopoli manufaktur Edison Trust untuk memproduksi karya independen pada awal 1910-an. Film epik buatannya pada tahun 1915 berjudul The Birth of a Nation membawa inovasi besar dalam teknik visual dan penceritaan naratif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeSistem studio besar yang dikenal sebagai Big 5 mendominasi industri ini dengan naungan bintang-bintang ternama dari MGM, Warner Bros., 20th Century Fox, RKO, hingga Paramount Pictures. Sebagian besar karya dari akhir 1920-an sampai 1960-an sangat lekat dengan genre tertentu seperti film koboi, komedi slapstick, musikal, kartun animasi, dan biografi.
Konvensi Stylistik dan Narasi Klasik Hollywood
Gaya visual naratif classical Hollywood cinema dipengaruhi oleh gagasan Renaisans yang menempatkan manusia sebagai titik fokus utama melalui tiga tingkat perangkat dan sistem. Perangkat utama yang digunakan mencakup teknik continuity editing seperti aturan 180 derajat dan aturan 30 derajat untuk menjaga kesinambungan spasial.
Narasi dalam sinema klasik selalu berprogres melalui motivasi psikologis berdasarkan perjuangan karakter manusia menuju tujuan yang terdefinisi dengan jelas. Alur cerita umumnya disusun secara linear dan kontinu dengan manipulasi waktu yang hanya diizinkan melalui penggunaan teknik kilas balik.
Pengolahan ruang dalam sinema klasik berupaya mengatasi sifat dua dimensi film melalui empat aspek utama yaitu pemusatan, penyeimbangan, frontalitas, dan kedalaman. Mayoritas adegan berfokus pada gestur atau ekspresi wajah karakter dengan komposisi visual yang seimbang di dalam bingkai gambar.
Puncak dari sistem studio tersebut terjadi pada tahun 1939 yang melahirkan banyak karya klasik terkenal seperti The Wizard of Oz serta Gone with the Wind. Pengaruh era klasik ini terus berlanjut dan membentuk landasan penting bagi identitas perfilman modern hingga saat ini.