Hoogere Burgerschool atau HBS adalah jenis sekolah menengah yang berdiri antara tahun 1863 hingga 1974 di Belanda dan wilayah jajahan kekaisaran Belanda termasuk Hindia Belanda. Keberadaan institusi pendidikan ini dirancang khusus untuk memberikan pengajaran tingkat lanjut dengan masa belajar lima hingga enam tahun bagi kalangan elite Eropa serta segelintir anak bumiputera terpilih.
Sistem pendidikan HBS di Hindia Belanda mulai berkembang pesat setelah diterapkannya Politik Etis pada tahun 1901 yang salah satu fokus utamanya adalah bidang pengajaran. Anak-anak pribumi yang cerdas memiliki kesempatan untuk menempuh pendidikan di sekolah ini setelah lulus dari Hollandsche Inlandsche School atau HIS meskipun jumlahnya sangat terbatas karena seleksi masuk yang ketat.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribePresiden pertama Republik Indonesia Soekarno tercatat pernah menjadi salah satu murid HBS di Surabaya sebelum melanjutkan pendidikannya ke Technische Hoogeschool te Bandoeng. Hal tersebut menunjukkan bahwa institusi ini memegang peranan penting dalam melahirkan para tokoh pergerakan nasional yang kelak memimpin kemerdekaan Indonesia.
Kualitas pengajaran di HBS Hindia Belanda disetarakan langsung dengan sekolah serupa di negeri Belanda melalui penerapan standar kurikulum yang tinggi dan tenaga pengajar profesional bergelar doktor. Namun tingginya standar akademik tersebut membuat beban belajar para siswa menjadi sangat berat dan berujung pada angka kegagalan kelulusan yang cukup tinggi.
Kurikulum Berat dan Standar Tinggi HBS
Kurikulum HBS mencakup belasan mata pelajaran padat mulai dari ilmu pasti alam hingga penguasaan berbagai bahasa asing Eropa seperti bahasa Belanda, Inggris, Prancis, dan Jerman. Para siswa dituntut menguasai seluruh materi tersebut secara mendalam agar ijazah yang diperoleh memiliki legalitas setara dengan lulusan di Eropa.
Beban pelajaran yang sangat banyak dan berat menyebabkan para siswa HBS harus bekerja ekstra keras untuk dapat menyelesaikan masa studi tepat waktu tanpa mengalami putus sekolah. Berdasarkan catatan sejarah, jumlah murid yang mampu bertahan hingga kelas empat hanya sekitar setengah dari total awal pendaftar.
Persentase siswa yang benar-benar berhasil lulus ujian akhir dan mengantongi ijazah resmi HBS tercatat hanya sekitar 25 persen dari keseluruhan jumlah siswa yang masuk. Sebagian besar siswa mengalami kegagalan karena kesulitan memenuhi standar kelulusan yang ketat terutama pada mata pelajaran bahasa asing dan ilmu eksakta.
Pemberlakuan standar kualitas tanpa kompromi ini sengaja dipertahankan oleh pemerintah kolonial agar mutu pendidikan menengah di wilayah jajahan tidak kalah saing dengan lembaga pendidikan utama di negeri Belanda. Akibatnya hanya segelintir siswa terpilih dengan kecerdasan tinggi yang sanggup bertahan hingga akhir masa pendidikan.