Paranoid fiction merupakan karya sastra yang mengeksplorasi sifat subjektif dari realitas dan bagaimana realitas itu bisa dimanipulasi oleh kekuatan yang berkuasa. Kekuatan tersebut bisa berasal dari luar seperti pemerintahan totaliter, atau dari dalam diri tokoh seperti gangguan mental atau penolakan terhadap kerasnya dunia yang mereka tinggali.
Unsur-unsur paranoid fiction sebenarnya sudah terlihat sejak akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Novel-novel Fyodor Dostoyevsky menghadirkan tokoh-tokoh paranoid dan bermasalah secara psikologis dengan latar gelap Rusia yang sedang modernisasi. Franz Kafka juga dikenal dengan penggambaran kehidupan nyata secara berlebihan untuk memperkuat absurditas tema-tema kehidupan yang ia sampaikan dalam karyanya.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeIstilah paranoid fiction pertama kali diciptakan untuk memberi label pada cerita-cerita sensasional dan tidak biasa sebagai karya yang berada di luar ranah fiksi sastra. Namun setelah Perang Dunia I, para modernis mulai mengeksplorasi tema-tema yang lebih aneh dalam kehidupan seni sebagai respons atas kematian yang digambarkan secara mekanis dan mustahil untuk dipermainkan oleh penggambaran perang yang grafis.
Setelah Perang Dunia II, para absurdis membawa fokus ini selangkah lebih maju dengan menempatkan tema-tema umum tersebut dalam latar surealis dan fantastis. Mereka mengubah konsep-konsep yang tadinya biasa menjadi menonjol dan khas, sehingga mengubah paranoid fiction menjadi genre yang sah dan diakui dalam dunia sastra.
Ciri Khas dan Perkembangan Paranoid Fiction di Era Modern
Philip K. Dick paling sering dianggap sebagai bapak dari paranoid fiction modern. Karya-karyanya lahir dari paranoia dan halusinasi, termasuk penglihatan tiba-tiba tentang tempat yang belum pernah ia datangi dan peristiwa yang belum pernah ia saksikan. Penglihatan tersebut begitu jelas sehingga Dick menuangkannya ke dalam tulisan, dan ia selalu mengklasifikasikannya sebagai "pemikiran spekulatif" di luar batas pemikiran konvensional.
Pada dasarnya, paranoid fiction merujuk secara spesifik pada karya tentang spekulasi dan kemungkinan konspirasi oleh orang-orang yang berkuasa, yang diceritakan oleh narator yang tidak dapat dipercaya. Namun jenis paranoid fiction yang paling populer justru menampilkan alam semesta yang tampak jelas dan nyata di permukaan, tetapi setelah diteliti lebih dekat ternyata menipu dan sengaja memberi informasi yang salah.
Paranoid fiction sering tumpang tindih dengan banyak genre lain, terutama fiksi dystopian, fiksi ilmiah, dan film noir. Meski demikian, paranoid fiction umumnya menghindari tema dan motif konkret yang didefinisikan secara eksplisit, dan lebih memilih alegori serta simbolisme ambigu untuk menekankan sifat dunia tokoh yang seperti mimpi dan tidak nyata.
Sebagai contoh, karya dystopian murni biasanya mengeksplorasi mekanisme dan motif negara totaliter untuk menjaga rakyatnya tetap terkendali. Sementara itu, paranoid fiction lebih berkonsentrasi pada efek negara terhadap kesejahteraan mental dan emosional penduduknya, serta implikasinya terhadap kondisi masyarakat yang dekaden. George Orwell dengan Nineteen Eighty-Four dapat dilihat sebagai keseimbangan dari keduanya.