Model AI deteksi kanker kuku berhasil dikembangkan oleh tim peneliti gabungan dari Severance Hospital dan Yonsei University Wonju College of Medicine guna membantu tenaga medis mengenali melanoma kuku lebih dini.
Berdasarkan pengamatan Kabayan News, inovasi tersebut memanfaatkan teknologi deep learning untuk membedakan melanoma kuku berbahaya dari melanonikia jinak secara akurat tanpa harus langsung melakukan prosedur biopsi invasif.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeMelanonikia sendiri merupakan kondisi munculnya garis gelap pada kuku yang seringkali menyerupai gejala awal kanker kulit melanoma, sehingga menyulitkan proses diagnosis visual oleh dokter spesialis kulit berpengalaman.
Menurut laporan yang dipublikasikan dalam Journal der Deutschen Dermatologischen Gesellschaft, sistem kecerdasan buatan ini mencatatkan nilai area under the receiver operating characteristic curve sebesar 0.954.
Profesor Oh Byung-ho dari Department of Dermatology Severance Hospital menyatakan bahwa teknologi tersebut terbukti mampu meningkatkan akurasi klinis tenaga medis secara signifikan dalam praktik nyata.
"Studi ini signifikan dalam mendemonstrasikan potensi teknologi pendukung diagnosis berbasis kecerdasan buatan yang dapat diaplikasikan dalam praktik klinis aktual," ujarnya sebagaimana dilaporkan.