I Made Agus Mahayastra adalah politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) yang saat ini kembali mengemban amanah sebagai Bupati Gianyar untuk masa jabatan 2025-2030. Ia resmi dilantik untuk periode keduanya oleh Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada 20 Februari 2025.
Sebelum menjabat sebagai orang nomor satu di Gianyar, Mahayastra memiliki rekam jejak panjang di eksekutif dan legislatif. Ia sempat menjabat sebagai Wakil Bupati Gianyar periode 2013-2018, serta pernah menduduki kursi Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Gianyar selama satu dekade, yakni rentang waktu 2004 hingga 2014.
Lahir di Desa Melinggih, Payangan, Gianyar, pada 2 Juni 1971, Mahayastra berasal dari keluarga sederhana. Ayahnya merupakan seorang guru SD bernama I Wayan Sutama, sementara sang ibu, Ni Made Sudani, berprofesi sebagai penjual kopi. Latar belakang sederhana ini membentuk karakternya sebelum akhirnya terjun ke dunia politik.
Related Stories
Suka dengan Artikel Ini?
Dapatkan lebih banyak cerita menarik dengan berlangganan newsletter kami. Gratis!
SubscribeKiprahnya di dunia politik semakin matang saat ia berhasil memenangkan Pilbup Gianyar 2024 bersama pasangannya, Anak Agung Gde Mayun. Pasangan ini mencatatkan kemenangan signifikan dengan perolehan 255.492 suara atau setara 81,14% dari total suara sah, yang mengantarkannya kembali memimpin Kabupaten Gianyar.
Jejak Kontroversi di Balik Kunjungan Presiden
Saat ini, Mahayastra membina keluarga bersama istrinya, Ida Ayu Ketut Surya Adnyani. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga orang anak, yakni Ni Putu Dyah Pradnya Maharani, Bagus Dwi Mahayana, dan Bagus Trisna Mahananda Putra, yang kini mendampingi perjalanan karir politiknya.
Di luar pencapaian politiknya, Mahayastra sempat menjadi sorotan publik pada akhir tahun 2023 terkait pesan berantai di grup WhatsApp kepala desa atau perbekel di Gianyar. Pesan tersebut berkaitan dengan kunjungan kerja Presiden Joko Widodo ke wilayah Batubulan, Kabupaten Gianyar, pada 31 Oktober 2023.
Dalam tangkapan layar percakapan grup WhatsApp bernama "Gianyar Aman", sosok yang identik dengan Mahayastra meminta para perbekel agar warga penerima Program Keluarga Harapan (PKH) tidak menghadiri acara penyerahan bantuan sembako oleh Presiden. Pesan tersebut sempat viral dan menuai berbagai tanggapan di kalangan masyarakat.
Menanggapi isu tersebut, Mahayastra memberikan klarifikasi singkat saat dimintai konfirmasi oleh awak media pada November 2023. Ia menegaskan bahwa apa yang disampaikan bukanlah bentuk arahan resmi, mengingat posisinya saat itu bukan lagi sebagai atasan langsung para perbekel tersebut.
Meski demikian, peristiwa itu sempat menyita perhatian publik di Bali, terutama karena terjadi di tengah hangatnya isu pencabutan baliho di sepanjang jalur kunjungan Presiden. Klarifikasi pun sempat dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk Pj. Gubernur Bali saat itu, Sang Made Mahendra Jaya, bersama aparat keamanan terkait situasi di lapangan.